Gema Kehidupan
Di antara tebing dan lembah, sang ayah mengajarkan arti gema kehidupan. Gambar: ForestWander · CC BY 3.0 · sumber
Seorang ayah mengajak anak laki-lakinya mendaki bukit di dekat desa mereka. Jalan setapaknya berbatu dan menanjak, diapit tebing-tebing tinggi di kiri dan kanan.
Di tengah jalan, kaki si anak tersandung batu. Ia jatuh dan lututnya tergores. Spontan ia berteriak, “Aduuuh!”
Betapa terkejutnya ia ketika dari balik bukit terdengar suara yang sama: “Aduuuh!”
Rasa sakitnya langsung terlupakan, berganti rasa penasaran. Ia berteriak lagi, “Siapa kamu?”
Suara itu menjawab, “Siapa kamu?”
Anak itu mulai kesal. “Kamu pengecut! Tunjukkan dirimu!”
Dan suara itu membalas dengan nada yang sama kesalnya, “Kamu pengecut! Tunjukkan dirimu!”
Si anak menoleh kepada ayahnya dengan wajah bingung dan marah. “Ayah, siapa itu? Kenapa dia mengejekku?”
Ayahnya tersenyum. “Nak, coba dengarkan baik-baik.” Lalu sang ayah berteriak ke arah tebing, “Aku kagum padamu!”
Suara itu menjawab, “Aku kagum padamu!”
Sang ayah berteriak lagi, “Kamu hebat!” Dan suara itu membalas, “Kamu hebat!”
Si anak terheran-heran. Ayahnya lalu berjongkok di sampingnya dan menjelaskan. “Orang menyebutnya gema. Suara kita memantul di tebing dan kembali kepada kita. Tetapi sebenarnya, inilah juga cara kehidupan bekerja.”
“Kehidupan akan mengembalikan kepadamu apa pun yang kamu berikan. Kalau kamu menginginkan lebih banyak cinta, berikanlah lebih banyak cinta. Kalau kamu ingin dihormati, hormatilah orang lain. Kalau kamu ingin orang bersikap baik kepadamu, mulailah dengan bersikap baik kepada mereka. Hidup tidak selalu membalas pada hari yang sama, tetapi cepat atau lambat, ia akan memantulkan apa yang kita teriakkan.”
Si anak terdiam, lalu dengan suara pelan ia berteriak ke arah bukit, “Terima kasih!”
Dari kejauhan, gema menjawab dengan lembut, “Terima kasih…”
Dalam perjalanan pulang, si anak terus memikirkan kata-kata ayahnya. Ia teringat temannya di sekolah yang sering ia ejek, dan adiknya yang kerap ia bentak. Pantas saja mereka juga sering bersikap ketus kepadanya. Selama ini ia mengira orang lainlah yang memulai. Ternyata, sering kali ia sendiri yang lebih dulu berteriak ke arah tebing.
Malam itu ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru: besok pagi ia akan menyapa temannya dengan ramah, lalu melihat gema apa yang akan kembali kepadanya.
💖 Pesan Moral
- Apa yang kita berikan kepada dunia, itulah yang akan kembali kepada kita.
- Kalau ingin mengubah cara orang memperlakukan kita, mulailah dari cara kita memperlakukan mereka.
- Hidup bukan kebetulan, melainkan cermin dari sikap dan perbuatan kita.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer “Gema Kehidupan” (The Echo of Life) yang penulis aslinya tidak diketahui.