Lobak Raksasa
Lobak yang begitu besar sampai seluruh keluarga harus menariknya bersama. Gambar: Yercaud-elango · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah desa di Rusia, hiduplah seorang kakek dan nenek. Pada musim semi, sang kakek menanam sebutir biji lobak di kebun belakang rumahnya. Ia menyiraminya setiap hari dan berbisik lembut, “Tumbuhlah, lobakku, tumbuhlah manis, tumbuhlah kuat.”
Lobak itu tumbuh dan tumbuh. Daunnya lebar dan hijau, dan umbinya membesar dari hari ke hari. Ketika musim panen tiba, lobak itu sudah sebesar karung gandum. Tak seorang pun di desa pernah melihat lobak sebesar itu.
Suatu pagi, kakek pergi ke kebun untuk mencabutnya. Ia memegang daunnya erat-erat dan menarik sekuat tenaga. Ia menarik dan menarik, tetapi lobak itu tidak bergerak sedikit pun.
“Nenek, kemarilah! Bantu aku!” panggil kakek.
Nenek pun datang. Ia memegang pinggang kakek, dan kakek memegang lobak. Mereka menarik dan menarik bersama-sama. Tetapi lobak itu tetap tidak bergerak.
Nenek memanggil cucu perempuan mereka. Sang cucu memegang nenek, nenek memegang kakek, kakek memegang lobak. Mereka menarik dan menarik. Lobak itu tetap tidak mau keluar.
Cucu memanggil si anjing. Anjing memegang ujung rok cucu, cucu memegang nenek, nenek memegang kakek, kakek memegang lobak. Mereka menarik sambil terengah-engah. Lobak itu bergeming.
Anjing memanggil si kucing. Kucing memegang ekor anjing, anjing memegang cucu, cucu memegang nenek, nenek memegang kakek, kakek memegang lobak. Mereka semua menarik sekuat tenaga sampai wajah mereka merah. Tetapi lobak itu tetap tertanam dalam tanah.
Kucing pun berpikir sejenak, lalu memanggil seekor tikus kecil yang sedang mengintip dari balik pagar. “Tikus, bisakah kau membantu kami?”
Anjing dan kakek hampir tertawa. “Tikus sekecil itu? Apa bedanya?” Tetapi si tikus sudah berlari mendekat dengan semangat. Ia memegang ekor kucing dengan kaki-kaki mungilnya.
Tikus memegang kucing, kucing memegang anjing, anjing memegang cucu, cucu memegang nenek, nenek memegang kakek, kakek memegang lobak. “Satu, dua, tiga, tarik!”
Mereka menarik, dan menarik, dan tiba-tiba… plop! Lobak raksasa itu tercabut dari tanah! Semuanya jatuh terjengkang satu di atas yang lain: kakek di atas nenek, nenek di atas cucu, cucu di atas anjing, anjing di atas kucing, dan kucing di atas tikus kecil yang tertawa terkikik-kikik.
Malam itu nenek memasak lobak raksasa itu menjadi sup yang lezat. Semua yang ikut menarik duduk bersama mengelilingi meja, termasuk tikus kecil yang mendapat tempat paling terhormat. Sebab tanpa tenaganya yang kecil itu, lobak raksasa tidak akan pernah tercabut.
💖 Pesan Moral
- Pekerjaan besar menjadi mungkin bila dikerjakan bersama-sama.
- Jangan meremehkan bantuan sekecil apa pun. Kadang yang paling kecil justru menjadi penentu.
- Setiap anggota tim berharga, dan keberhasilan patut dinikmati bersama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Rusia “Lobak Raksasa” (Repka), yang tercatat dalam kumpulan Aleksandr Afanasyev pada abad ke-19.