Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Iblis Kecil dan Kerak Roti

3 menit baca

Petani yang membajak sejak pagi, dengan sepotong roti sebagai bekal. Gambar: Mikhail Clodt von Jürgensburg · Public domain · sumber

Pagi-pagi sekali, seorang petani miskin berangkat membajak ladangnya. Karena tidak sempat sarapan, ia membawa sepotong kerak roti, satu-satunya makanan yang ia punya. Ia membungkusnya dengan mantel dan meletakkannya di bawah semak.

Setelah lama bekerja, kudanya lelah dan perutnya keroncongan. Petani itu pergi ke semak untuk mengambil rotinya. Tetapi roti itu sudah tidak ada. Ia mencari ke sana kemari, mengibas-ngibaskan mantelnya, tetapi rotinya tetap hilang.

Petani itu heran. “Aneh, tidak ada siapa-siapa di sini. Tapi ada yang mengambil rotiku,” gumamnya. Lalu ia mengangkat bahu. “Ya sudahlah. Kalau memang ada yang mengambilnya, mungkin ia lebih membutuhkannya daripada aku. Semoga ia kenyang.” Ia minum air, lalu kembali membajak dengan perut kosong.

Yang mencuri roti itu ternyata adalah iblis kecil. Ia sengaja melakukannya untuk membuat petani itu marah, mengumpat, dan berbuat dosa. Ketika rencananya gagal, ia kembali kepada pemimpinnya, si Iblis besar, dengan kepala tertunduk.

“Aku sudah mengambil rotinya, tapi ia tidak mengumpat sedikit pun. Ia malah berkata, ‘Semoga yang mengambilnya kenyang.'”

Iblis besar sangat marah. “Kalau petani itu mengalahkanmu, itu salahmu sendiri karena kau tidak cerdik! Pergilah, dan dalam tiga tahun kau harus mengalahkannya. Kalau tidak, kau akan dihukum.”

Iblis kecil itu pun memutar otak. Ia menyamar menjadi seorang buruh dan bekerja untuk petani itu. Pada tahun pertama, ia menyarankan agar petani menanam gandum di tanah yang rendah dan basah. Tahun itu kemarau panjang, panen orang lain gagal, tetapi gandum si petani tumbuh subur. Tahun berikutnya ia menyarankan menanam di bukit. Hujan turun deras, ladang orang lain rusak, sementara ladang si petani berlimpah.

Petani itu kini punya gandum jauh lebih banyak daripada yang ia butuhkan. Lalu si iblis kecil mengajarinya cara mengolah gandum itu menjadi minuman keras.

Petani mulai minum, lalu mengundang tetangga-tetangganya untuk ikut minum. Iblis besar datang untuk melihat hasilnya. Mula-mula para tamu bersikap seperti rubah: licik dan saling memuji dengan manis. Setelah gelas berikutnya, mereka menjadi seperti serigala: saling membentak dan bertengkar. Akhirnya mereka menjadi seperti babi: terguling di lumpur, mendengkur, tidak lagi mengenal malu.

Iblis besar mengangguk puas. “Bagaimana kau melakukannya?”

“Mudah saja,” jawab iblis kecil. “Aku hanya memberinya gandum lebih banyak dari yang ia butuhkan. Darah rubah, serigala, dan babi selalu ada dalam diri manusia. Selama ia hanya punya cukup, darah itu diam. Ketika ia kelebihan, darah itu keluar. Dulu, saat ia kehilangan kerak roti terakhirnya, ia masih bisa merelakannya. Sekarang ia punya berlimpah, dan ia jadi binatang.”

💖 Pesan Moral

  • Kemiskinan tidak selalu menjadi ujian terberat; kelimpahan yang tidak dikendalikan bisa lebih berbahaya.
  • Ikhlas merelakan membuat hati tetap bersih walau perut kosong.
  • Berhati-hatilah pada kebiasaan buruk yang datang perlahan dan menyamar sebagai keberuntungan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Bagaimana Iblis Kecil Menebus Kerak Roti” (1886).