Dua Peziarah Tua
Perjalanan panjang para peziarah; yang terpenting justru terjadi di tengah jalan. Gambar: Sergey Vinogradov · Public domain · sumber
Dua orang tua dari sebuah desa di Rusia, Efim dan Elisha, sudah lama berjanji untuk berziarah bersama ke Yerusalem. Efim adalah petani kaya yang serius, tidak pernah minum, dan sangat teliti mengurus hartanya. Elisha lebih miskin, periang, suka memelihara lebah, dan tidak terlalu memikirkan uang.
Setelah bertahun-tahun menunda, akhirnya mereka berangkat dengan berjalan kaki, masing-masing membawa bekal uang yang cukup untuk perjalanan panjang itu. Berminggu-minggu mereka berjalan bersama melintasi desa demi desa.
Suatu hari mereka tiba di daerah yang sedang dilanda paceklik. Elisha merasa haus dan singgah di sebuah pondok untuk meminta air, sementara Efim berjalan duluan sambil berjanji menunggunya di depan.
Di dalam pondok itu Elisha mendapati pemandangan yang memilukan. Seorang perempuan tua, seorang ibu, dan anak-anak kecil terbaring lemah karena kelaparan. Sang ayah hampir tidak bisa berdiri. Mereka bahkan tidak punya tenaga untuk menimba air.
Elisha tidak tega meninggalkan mereka. Ia mengambilkan air, membelikan roti, lalu memasak bubur untuk mereka. “Hanya sehari,” pikirnya. Tetapi keesokan harinya ia tahu keluarga itu telah menggadaikan ladang, sabit, dan sapi mereka. Tanpa semua itu, mereka akan kelaparan lagi begitu ia pergi.
Maka Elisha tinggal lebih lama. Ia menebus ladang mereka, membelikan seekor sapi, kuda, gandum untuk musim tanam, dan sabit untuk panen. Ketika semuanya beres, uangnya hanya tersisa sedikit, tidak cukup lagi untuk sampai ke Yerusalem. Diam-diam, sebelum fajar, ia pergi agar keluarga itu tidak sempat berterima kasih, lalu pulang ke desanya.
Sementara itu Efim melanjutkan perjalanan seorang diri dan sampai di Yerusalem. Ia mengunjungi semua tempat suci, tetapi pikirannya sering terganggu: apakah dompetnya aman, apakah urusan di rumah beres? Di Gereja Makam Kudus yang penuh sesak, ia melihat seseorang di barisan paling depan, dekat altar, yang wajahnya bersinar. Itu Elisha! Efim mencoba mendekat, tetapi orang itu hilang di tengah keramaian. Kejadian itu terulang tiga kali, dan tiga kali pula ia tak berhasil menemuinya.
Dalam perjalanan pulang, Efim melewati pondok yang dulu disinggahi Elisha. Keluarga di sana kini sehat dan berkecukupan. Mereka bercerita tentang seorang tua asing yang menyelamatkan hidup mereka, lalu pergi tanpa menyebut nama. “Kami mendoakannya setiap hari,” kata mereka.
Efim tertegun. Setibanya di desa, ia mendapati Elisha sedang mengurus lebah-lebahnya dengan wajah gembira.
“Aku melihatmu di Yerusalem,” kata Efim.
Elisha hanya tersenyum. “Itu urusan Tuhan, kawan. Aku hanya tidak sampai ke sana.”
Efim akhirnya mengerti. Cara terbaik menunaikan janji kepada Tuhan selama hidup adalah dengan mengasihi dan berbuat baik kepada sesama.
💖 Pesan Moral
- Ibadah sejati tampak dalam belas kasih, bukan hanya dalam perjalanan atau ritual.
- Berbuat baik tanpa pamrih justru membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.
- Hati yang sibuk mengkhawatirkan harta sulit merasakan kedamaian, bahkan di tempat paling suci.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Dua Orang Tua” (1885).