Ahli Tata Bahasa dan Tukang Perahu
Perahu kecil di Sungai Tigris, Baghdad. Di sungai seperti inilah sang ahli bahasa belajar arti "bisa berenang". Gambar: Matson Photo Service (Library of Congress) · Public domain · sumber
Seorang ahli tata bahasa yang sangat terpelajar hendak menyeberangi sebuah sungai yang lebar. Ia menyewa perahu kecil yang didayung oleh seorang tukang perahu sederhana.
Begitu perahu mulai bergerak, sang ahli bahasa duduk dengan angkuh dan mulai berbincang. “Hai tukang perahu, apakah kau pernah belajar ilmu tata bahasa?”
“Tidak, Tuan,” jawab tukang perahu itu sambil terus mendayung. “Saya tidak pernah bersekolah.”
Ahli bahasa itu menggelengkan kepala dengan wajah kasihan. “Sayang sekali. Kalau begitu, separuh umurmu telah sia-sia.”
Tukang perahu itu terdiam. Hatinya tersinggung, tetapi ia tidak membalas. Ia terus mendayung di bawah terik matahari, sementara sang ahli bahasa berbicara panjang lebar tentang kaidah-kaidah bahasa, tanda baca, dan susunan kalimat yang benar.
Ketika perahu sampai di tengah sungai, tiba-tiba angin kencang bertiup. Gelombang besar datang menghantam, dan perahu kecil itu mulai terombang-ambing. Air masuk dari sisi-sisinya. Perahu itu nyaris tenggelam.
Kali ini tukang perahu yang bertanya, dengan suara lantang menembus deru angin, “Tuan, apakah Tuan bisa berenang?”
Wajah sang ahli bahasa pucat pasi. “Tidak! Aku tidak pernah belajar berenang!”
Tukang perahu itu berkata, “Kalau begitu, Tuan, seluruh umur Tuan akan sia-sia, karena perahu ini sebentar lagi tenggelam.”
Untunglah, tukang perahu yang berpengalaman itu berhasil menyelamatkan mereka berdua. Ia berenang sambil menarik sang ahli bahasa ke tepian. Di darat, sang ahli bahasa duduk basah kuyup dan gemetar, dan untuk pertama kalinya ia tidak berkata apa-apa.
Rumi menceritakan kisah ini dalam Masnavi dengan pesan yang tajam: di lautan kehidupan, yang menyelamatkan kita bukan banyaknya pengetahuan di kepala, melainkan kerendahan hati. Ilmu tata bahasa tidak berguna ketika kita tenggelam. Yang dibutuhkan saat itu adalah kemampuan untuk “berenang”, yaitu melepaskan keangkuhan dan berserah diri.
Kisah ini tidak merendahkan ilmu. Ilmu itu mulia. Yang dikritik adalah kesombongan karena ilmu, yang membuat seseorang memandang rendah orang lain. Setiap orang punya keahlian yang berbeda, dan tidak ada yang tahu kapan kita akan membutuhkan keahlian orang yang kita anggap “tidak berpendidikan”.
Di tempat kerja, di keluarga, dan di masyarakat, kita bertemu banyak “tukang perahu”: petugas kebersihan, pengemudi, petani, satpam. Mereka mungkin tidak bergelar, tetapi tanpa mereka, perahu kehidupan kita tidak akan sampai ke seberang.
Belajarlah sebanyak mungkin, tetapi jangan lupa belajar berenang.
💖 Pesan Moral
- Jangan memandang rendah orang lain karena perbedaan pendidikan. Setiap orang punya keahliannya sendiri.
- Ilmu yang tinggi harus disertai kerendahan hati; kesombongan membuat ilmu kehilangan nilainya.
- Pengetahuan praktis kadang lebih menyelamatkan daripada teori yang hebat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi (abad ke-13), Buku I.