Budak yang Takut Laut
Lukisan dari naskah Gulistan karya Sa'di: kisah-kisah di atas perahu sering menjadi bahan renungannya. Gambar: Amir Khalil (Chester Beatty Library) · Public domain · sumber
Seorang raja Persia berlayar menyeberangi lautan bersama rombongannya. Di antara para pengiringnya ada seorang budak muda yang belum pernah melihat laut, apalagi naik kapal.
Begitu kapal mulai bergoyang diterpa ombak, budak itu panik. Ia menangis, menjerit, gemetar, dan berpegangan erat pada tiang kapal. Semakin tinggi ombaknya, semakin keras tangisnya. Para penumpang lain mencoba menenangkannya dengan kata-kata lembut, tetapi tak ada yang berhasil. Tangisannya justru membuat semua orang ikut gelisah, dan sang raja tidak bisa beristirahat sedikit pun.
Di kapal itu ada seorang filsuf tua yang bijak. Ia mendekati raja dan berkata, “Paduka, jika Paduka mengizinkan, hamba bisa membuatnya tenang.”
“Lakukanlah. Aku akan sangat berterima kasih,” jawab raja.
Sang filsuf memberi isyarat kepada beberapa awak kapal. Mereka mengangkat budak itu dan melemparkannya ke laut. Budak itu tenggelam, timbul, menelan air asin, dan menggapai-gapai dengan panik. Setelah beberapa saat, para awak menarik rambutnya dan mengangkatnya kembali ke kapal.
Begitu sampai di geladak, budak itu langsung duduk diam di sudut, memeluk lututnya dengan tenang. Ia tidak menangis lagi. Tidak mengeluh lagi. Seluruh kapal menjadi hening.
Raja terheran-heran. “Bagaimana mungkin? Tadi ia menjerit-jerit, sekarang ia diam seperti batu. Apa rahasianya?”
Sang filsuf menjawab, “Paduka, sebelumnya ia tidak pernah merasakan bagaimana tenggelam di laut. Karena itu ia tidak tahu betapa amannya berada di atas kapal. Orang tidak akan menghargai keselamatan sebelum ia merasakan bahaya.”
Sa’di, penyair besar Persia yang menuliskan kisah ini, lalu menambahkan bahwa roti gandum yang sederhana terasa hambar bagi orang yang kenyang, padahal bagi orang yang kelaparan, roti itu adalah hidangan paling lezat. Begitu pula, tempat yang bagi seseorang terasa seperti neraka bisa jadi adalah surga bagi orang lain yang baru keluar dari kesulitan yang jauh lebih besar.
Kita pun sering seperti budak di kapal itu. Kita mengeluh tentang pekerjaan, rumah, atau keadaan yang sebenarnya cukup aman, hanya karena kita belum pernah merasakan apa artinya kehilangan semua itu. Kisah ini tidak mengajak kita mencari penderitaan, melainkan membuka mata pada “kapal” yang selama ini menopang hidup kita.
Tentu, cara sang filsuf terasa keras bagi kita sekarang, dan kisah ini tidak dimaksudkan sebagai contoh cara menenangkan orang. Sa’di memakai peristiwa itu sebagai perumpamaan yang mudah diingat tentang betapa cepatnya kita lupa bersyukur.
💖 Pesan Moral
- Kita sering baru menghargai keselamatan setelah merasakan bahaya. Belajarlah bersyukur sebelum itu terjadi.
- Keluhan kita bisa jadi adalah impian bagi orang lain yang hidupnya lebih sulit.
- Pengalaman sulit bisa mengubah cara kita memandang hidup selamanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Gulistan (Taman Mawar) karya Sa’di dari Syiraz, Persia (1258), Bab I tentang perilaku para raja.