Baru Klinting dan Asal-Usul Rawa Pening
Rawa Pening, Ambarawa, yang menurut legenda berasal dari lidi Baru Klinting. Gambar: PL 05 SIGIT · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di lereng Gunung Telomoyo, Jawa Tengah, tersebar sebuah legenda tentang seekor naga bernama Baru Klinting. Konon ia adalah anak seorang perempuan desa bernama Endang Sawitri yang lahir dalam wujud naga. Ketika dewasa, ia diperintahkan bertapa melingkari sebuah bukit sebagai syarat untuk diakui ayahnya.
Suatu hari, warga sebuah desa yang makmur di dekat situ hendak mengadakan pesta besar setelah panen. Mereka berburu ke hutan untuk mencari daging. Karena tidak menemukan hewan buruan, mereka akhirnya menemukan tubuh naga yang sedang bertapa dan memotong dagingnya untuk pesta.
Dalam legenda, Baru Klinting kemudian menjelma menjadi seorang anak laki-laki yang tubuhnya penuh luka dan bau anyir. Ia berjalan ke desa itu dalam keadaan lapar dan lemah.
Pesta sedang berlangsung meriah. Makanan berlimpah di mana-mana. Anak itu meminta sedikit makanan dari rumah ke rumah. Namun semua orang mengusirnya. “Pergi sana! Kau membuat tamu-tamu kami jijik!” Ada yang meludahinya, ada pula yang melemparinya dengan sisa tulang.
Dengan langkah gontai, anak itu sampai di sebuah gubuk di ujung desa. Di sana tinggal seorang janda tua miskin yang dikenal sebagai Nyai Latung. Ia tidak ikut berpesta karena tidak diundang.
Melihat anak itu, Nyai Latung langsung menyuruhnya masuk. “Duduklah, Nak. Makanan nenek memang sedikit, tapi mari kita makan bersama.” Ia menyuguhkan nasi dan lauk seadanya, lalu membersihkan luka-luka anak itu dengan lembut.
Setelah makan, anak itu berkata, “Nek, jika nanti terdengar suara gemuruh, naiklah ke atas lesung dan bawalah centong. Jangan lupa pesan ini.”
Ia lalu kembali ke tengah desa dan menancapkan sebatang lidi ke tanah. Ia menantang warga, “Siapa yang bisa mencabut lidi ini?” Warga tertawa dan mencoba satu per satu, dari anak-anak sampai lelaki terkuat. Tidak ada yang berhasil.
Akhirnya anak itu sendiri mencabut lidi tersebut dengan mudah. Dari lubang bekas lidi memancar air yang semakin lama semakin deras, hingga menenggelamkan seluruh desa. Hanya Nyai Latung yang selamat, terapung di atas lesungnya.
Genangan air itu, menurut legenda, menjadi Rawa Pening, danau yang kini terletak di Kabupaten Semarang dan dikenal dengan eceng gondok serta pemandangan gunung di sekitarnya.
Legenda ini dituturkan untuk mengingatkan bahwa kemakmuran bisa membuat orang lupa diri. Yang menyelamatkan Nyai Latung bukanlah kekayaan atau kekuatan, melainkan hati yang mau berbagi kepada orang yang paling dihina.
💖 Pesan Moral
- Jangan merendahkan orang dari rupa dan keadaannya.
- Berbagi di saat kekurangan adalah kebaikan yang paling tulus.
- Kesombongan dalam kemakmuran bisa menenggelamkan kita sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda rakyat Jawa Tengah tentang Baru Klinting dan asal-usul Rawa Pening, Ambarawa. Detail cerita berbeda-beda menurut penuturnya.