Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Jaka Tarub dan Selendang Bidadari

2 menit baca

Telaga di tengah hutan, seperti tempat para bidadari turun mandi. Gambar: Bagaskara Lazuardi · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di sebuah desa di Jawa Tengah, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub. Ia gemar berburu di hutan dekat desanya. Suatu hari, ketika menyusuri hutan, ia mendengar suara tawa riang dari arah sebuah telaga.

Ia mengintip dari balik semak dan terpana. Tujuh bidadari dari kahyangan sedang mandi dan bersenda gurau di telaga itu. Selendang-selendang mereka, yang menjadi kunci untuk terbang kembali ke langit, tergeletak di atas batu.

Jaka Tarub tergoda. Diam-diam ia mengambil satu selendang dan menyembunyikannya. Ketika para bidadari selesai mandi, enam di antaranya terbang pulang. Satu orang tertinggal, menangis mencari selendangnya. Namanya Nawang Wulan.

Jaka Tarub keluar dan berpura-pura menolong. Nawang Wulan yang tidak bisa pulang akhirnya bersedia menjadi istrinya. Mereka hidup bersama dan dikaruniai seorang putri bernama Nawangsih.

Nawang Wulan memiliki kesaktian. Setiap hari ia memasak nasi hanya dengan sebutir beras, dan butir itu cukup untuk sepanci penuh. Karena itu, lumbung padi mereka selalu penuh. Namun ia berpesan kepada suaminya, “Kakang, jangan sekali-kali membuka tutup periuk ketika aku sedang menanak nasi.”

Bertahun-tahun Jaka Tarub menepati pesan itu. Sampai suatu hari, ketika istrinya pergi ke sungai, rasa penasarannya tak terbendung. Ia membuka tutup periuk dan melihat sebutir beras di dalamnya.

Sejak saat itu, kesaktian Nawang Wulan hilang. Ia harus menumbuk padi seperti perempuan lain, dan persediaan di lumbung pun cepat menipis. Suatu hari, ketika mengambil padi di dasar lumbung, tangannya menyentuh sesuatu yang lembut. Itu adalah selendangnya, yang selama ini disembunyikan suaminya.

Nawang Wulan terdiam lama. Ia kecewa, bukan hanya karena pesannya dilanggar, tetapi karena sejak awal ia dibohongi. Dengan berat hati ia mengenakan selendang itu.

“Kakang, aku harus kembali ke kahyangan. Rawatlah Nawangsih baik-baik. Jika ia rindu padaku, bawalah ia ke luar rumah saat bulan purnama. Aku akan datang menyusuinya.”

Nawang Wulan pun terbang ke langit. Jaka Tarub hanya bisa memandangi kepergiannya sambil menggendong putri kecilnya. Ia baru sadar bahwa kebahagiaannya dibangun di atas kebohongan, dan kebohongan itulah yang akhirnya merenggut semuanya.

Dalam babad Jawa, Jaka Tarub juga disebut sebagai leluhur raja-raja Mataram melalui putrinya, Nawangsih. Namun bagi kebanyakan orang, kisah ini lebih dikenang sebagai pelajaran tentang kejujuran dan kepercayaan dalam rumah tangga.

💖 Pesan Moral

  • Hubungan yang dibangun di atas kebohongan mudah runtuh ketika kebenaran terungkap.
  • Kepercayaan itu mahal; sekali dikhianati, sulit dipulihkan.
  • Kendalikan rasa penasaran bila menyangkut janji kepada orang yang kita cintai.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Jawa “Jaka Tarub dan Nawang Wulan”, yang juga tercatat dalam Babad Tanah Jawi.