Timun Mas dan Buto Ijo
Dari sebutir biji mentimun, lahirlah Timun Mas. Gambar: Watpangbantawa · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah desa di Jawa Tengah, hiduplah seorang janda tua bernama Mbok Sirni. Ia sudah lama mendambakan seorang anak. Setiap malam ia berdoa agar tidak hidup sendirian di masa tuanya.
Suatu hari datanglah raksasa hijau yang menakutkan, Buto Ijo. Ia memberikan sebutir biji mentimun kepada Mbok Sirni. “Tanamlah ini. Kau akan mendapatkan seorang anak. Tapi ingat, ketika anak itu berusia enam belas tahun, kau harus menyerahkannya kepadaku untuk kusantap.”
Karena begitu ingin punya anak, Mbok Sirni menyetujuinya. Biji itu tumbuh menjadi tanaman mentimun dengan satu buah keemasan yang besar. Ketika dibelah, di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang cantik. Mbok Sirni menamainya Timun Mas.
Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang rajin, baik hati, dan sangat menyayangi ibunya. Namun semakin besar Timun Mas, semakin gelisah hati Mbok Sirni. Ia menyesali janjinya.
Menjelang hari yang ditentukan, Mbok Sirni pergi menemui seorang pertapa di gunung. Pertapa itu memberinya empat bungkusan kecil: biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Jika raksasa itu mengejar anakmu, lemparkan bungkusan ini satu per satu.”
Hari itu pun tiba. Buto Ijo datang dengan suara menggelegar. Mbok Sirni menyuruh Timun Mas lari lewat pintu belakang. Raksasa itu murka dan mengejarnya.
Ketika jarak mereka makin dekat, Timun Mas melempar biji mentimun. Seketika tumbuh ladang mentimun yang lebat. Buto Ijo berhenti dan melahap mentimun itu dengan rakus. Setelah kenyang, ia mengejar lagi.
Timun Mas melempar jarum, dan tumbuhlah hutan bambu yang tajam. Kaki Buto Ijo berdarah, tetapi ia terus mengejar. Timun Mas melempar garam, dan tanah berubah menjadi lautan luas. Raksasa itu berenang dengan susah payah dan berhasil menyeberang.
Dengan sisa tenaga, Timun Mas melempar bungkusan terakhir, terasi. Tanah di belakangnya berubah menjadi lautan lumpur yang mendidih. Buto Ijo terjebak dan tenggelam di dalamnya.
Timun Mas pulang dan memeluk ibunya erat-erat. Sejak itu mereka hidup tenang dan bahagia. Mbok Sirni tidak pernah lagi membuat janji yang tidak bisa ia tepati.
Kisah ini juga menyimpan pelajaran halus: Timun Mas selamat bukan hanya karena benda ajaib, tetapi karena ia tidak menyerah meski lelah, dan karena seorang ibu yang mau berjuang menebus kesalahannya.
💖 Pesan Moral
- Pikirkan baik-baik sebelum berjanji, terutama saat sedang sangat menginginkan sesuatu.
- Jangan menyerah walau rintangan datang bertubi-tubi.
- Kasih ibu mendorongnya berjuang memperbaiki kesalahan demi anaknya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Timun Mas dari Jawa Tengah.