Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Kepalan Tangan Guru Mokusen

2 menit baca

Tangan yang tahu kapan menggenggam dan kapan membuka. Gambar: Tidak diketahui (Jepang, zaman Nara; Cleveland Museum of Art) · CC0 · sumber

Mokusen Hiki adalah seorang guru Zen yang tinggal di sebuah kuil di Provinsi Tamba, Jepang. Suatu hari salah satu umatnya datang dengan wajah murung.

“Guru, saya punya masalah dengan istri saya,” katanya. “Ia sangat pelit. Setiap keping uang ia simpan rapat-rapat. Ia tidak pernah mau bersedekah, tidak mau menjamu tetangga, bahkan untuk keperluan yang wajar pun ia hitung-hitung. Saya malu dan tidak tahu harus berbuat apa.”

Mokusen mendengarkan, lalu berkata, “Biar aku yang menemuinya.”

Beberapa hari kemudian Mokusen datang ke rumah keluarga itu. Sang istri menyambutnya dengan sopan. Tanpa banyak basa-basi, Mokusen mengangkat tangannya di depan wajah perempuan itu. Tangannya terkepal erat.

“Apa maksud Guru?” tanya perempuan itu heran.

“Seandainya tanganku selalu seperti ini, terkepal terus dan tidak pernah dibuka,” kata Mokusen, “kau akan menyebutnya apa?”

Perempuan itu berpikir sejenak. “Cacat,” jawabnya.

Mokusen lalu membuka tangannya lebar-lebar, menegakkan semua jarinya, dan membiarkan telapak tangannya terbuka di depan wajah perempuan itu.

“Dan seandainya tanganku selalu seperti ini, terbuka terus dan tidak pernah bisa menggenggam?”

“Itu juga cacat,” jawab perempuan itu.

“Kalau kau sudah memahami itu,” kata Mokusen sambil tersenyum, “kau adalah istri yang baik.” Lalu ia pamit pulang.

Menurut kisah ini, sejak kunjungan itu sang istri berubah. Ia tetap hemat dan tidak boros, tetapi ia juga belajar memberi. Ia membantu suaminya menjamu tamu dan mulai bersedekah kepada yang membutuhkan.

Mokusen tidak menceramahi atau mempermalukan perempuan itu. Ia menunjukkan keseimbangan dengan sederhana. Tangan yang sehat bisa menggenggam dan bisa membuka. Menabung itu baik, tetapi tidak pernah memberi membuat hidup sempit. Memberi itu mulia, tetapi menghamburkan tanpa perhitungan juga bukan kebijaksanaan.

Yang membuat tangan berguna adalah kemampuannya untuk tahu kapan menggenggam dan kapan membuka.

Kita pun bisa bercermin pada kedua tangan itu. Ada orang yang terlalu erat menggenggam uang, waktu, atau perhatiannya, sehingga orang-orang di sekitarnya merasa jauh. Ada juga yang terlalu longgar, mudah menghabiskan apa saja tanpa berpikir panjang, lalu kekurangan saat benar-benar membutuhkan.

💖 Pesan Moral

  • Keseimbangan adalah kunci: tahu kapan menyimpan dan kapan berbagi.
  • Kekikiran dan pemborosan sama-sama membuat hidup “cacat”.
  • Teguran yang lembut dan bijak lebih mudah diterima daripada celaan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Zen tentang guru Mokusen Hiki, yang dikenal luas dengan judul “Mokusen’s Hand” dalam kumpulan 101 Zen Stories susunan Nyogen Senzaki dan Paul Reps.