Tuan Nanguo, Peniup Yu Gadungan (滥竽充数)
"Konser Istana", lukisan dari Dinasti Tang. Di tengah permainan bersama, siapa yang tahu kalau ada pemain yang sebenarnya tidak meniup? Gambar: anonymous · Public domain · sumber
Raja Xuan dari negeri Qi sangat gemar mendengarkan musik yu, alat musik tiup dari bambu yang mirip seruling bersusun. Tetapi ia punya satu kebiasaan: ia hanya suka mendengarkannya dimainkan beramai-ramai. Setiap kali ingin menikmati musik, ia memanggil tiga ratus orang peniup yu sekaligus untuk bermain bersama di hadapannya.
Para pemain musik itu hidup enak di istana. Mereka mendapat gaji yang besar, makanan yang lezat, dan tempat tinggal yang nyaman.
Kabar itu terdengar oleh seorang lelaki yang dikenal sebagai Tuan Nanguo. Sebenarnya ia sama sekali tidak bisa meniup yu. Memegangnya saja ia tidak tahu caranya. Tetapi ia melihat peluang.
“Tiga ratus orang bermain bersama-sama,” pikirnya. “Siapa yang akan tahu kalau satu orang tidak benar-benar meniup?”
Ia pun menghadap Raja Xuan dan dengan penuh percaya diri mengaku sebagai peniup yu yang hebat. Raja yang senang mendapat tambahan pemain langsung menerimanya, bahkan memberinya gaji yang sama dengan para pemain lain.
Sejak hari itu, setiap kali rombongan musik dipanggil bermain, Tuan Nanguo ikut duduk di barisan. Ia memegang yu-nya, menggembungkan pipi, menggoyangkan badan mengikuti irama, dan memasang wajah penuh penghayatan. Dari luar, ia tampak seperti pemain paling bersemangat. Padahal tidak ada satu nada pun yang keluar dari alat musiknya. Suaranya tenggelam di antara tiga ratus pemain lain, dan tidak ada yang menyadarinya.
Bertahun-tahun ia menikmati hidup nyaman dengan cara itu.
Kemudian Raja Xuan wafat, dan putranya, Raja Min, naik takhta. Raja Min juga menyukai musik yu, tetapi seleranya berbeda. Ia lebih suka mendengarkan para pemain satu per satu, agar bisa menilai keindahan permainan masing-masing.
Perintah pun turun: setiap peniup yu harus bermain sendirian di hadapan raja.
Mendengar kabar itu, Tuan Nanguo pucat pasi. Malam itu juga, sebelum gilirannya tiba, ia mengemasi barang-barangnya dan diam-diam melarikan diri dari istana.
Dari kisah inilah lahir peribahasa 滥竽充数 (làn yú chōng shù), “peniup yu palsu sekadar mengisi jumlah”. Peribahasa ini dipakai untuk menyebut orang yang tidak punya kemampuan tetapi menyusup di antara orang-orang ahli, atau barang bermutu rendah yang dicampur dengan barang bagus. Kadang orang juga memakainya dengan rendah hati, misalnya, “Saya ini cuma 滥竽充数 di tim ini,” artinya “saya cuma ikut meramaikan”.
💖 Pesan Moral
- Kepura-puraan cepat atau lambat akan terbongkar. Bersembunyi di tengah keramaian tidak bisa selamanya.
- Bangunlah kemampuan yang sungguh-sungguh, karena kesempatan untuk diuji sendirian pasti akan datang.
- Bagi pemimpin: kenali kemampuan setiap anggota tim, jangan hanya melihat hasil bersama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Han Feizi, bab “Nei Chu Shuo Shang”, karya filsuf Han Fei (abad ke-3 SM), asal-usul peribahasa 滥竽充数.