Tiga di Pagi Hari, Empat di Sore Hari (朝三暮四)
Lukisan kera dan rusa dari Dinasti Song Selatan. Kawanan kera Ju Gong marah dan gembira atas jumlah kacang yang sama. Gambar: Pelukis anonim, Dinasti Song Selatan · CC0 · sumber
Di negeri Song, hiduplah seorang lelaki tua yang sangat menyayangi monyet. Orang-orang menjulukinya Ju Gong, “Pak Tua Pemelihara Monyet”. Di halaman rumahnya, ia memelihara sekawanan besar monyet.
Ju Gong sudah bertahun-tahun hidup bersama monyet-monyet itu. Ia memahami tabiat mereka, dan anehnya, monyet-monyet itu pun seolah memahami kata-katanya. Setiap hari ia memberi mereka makan biji xu, sejenis kacang hutan mirip berangan. Karena sayangnya, ia bahkan rela mengurangi jatah makan keluarganya sendiri supaya monyet-monyetnya tetap kenyang.
Tetapi lama-lama keadaan berubah. Panen kurang baik, dan persediaan makanan di rumah semakin menipis. Ju Gong sadar bahwa ia harus mengurangi jatah makan monyet-monyetnya. Ia khawatir mereka tidak mau menurut dan menjadi marah.
Maka ia mengumpulkan kawanan monyet itu dan berkata, “Mulai sekarang, aku akan memberi kalian kacang tiga butir di pagi hari dan empat butir di sore hari. Bagaimana, cukup?”
Mendengar itu, monyet-monyet itu langsung berdiri. Mereka berteriak-teriak, melompat-lompat, dan menggaruk-garuk tanah dengan marah. Tiga butir di pagi hari? Terlalu sedikit!
Ju Gong mengangkat tangannya, menunggu sampai keributan reda. Lalu ia berkata dengan tenang, “Baiklah, baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau empat butir di pagi hari dan tiga butir di sore hari?”
Seketika itu juga, monyet-monyet itu berhenti berteriak. Mereka duduk kembali, saling berpandangan, lalu bersorak gembira. Mereka sangat puas, seolah-olah baru saja memenangkan perundingan yang besar.
Padahal jumlahnya sama persis: tujuh butir sehari. Yang berubah hanya urutannya.
Kisah ini tercatat dalam kitab Zhuangzi dan Liezi. Dari sinilah lahir peribahasa 朝三暮四 (zhāo sān mù sì), “tiga di pagi hari, empat di sore hari”. Pada awalnya peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan orang yang tertipu oleh perubahan kemasan, padahal isinya sama saja. Belakangan, dalam bahasa Tionghoa modern, artinya bergeser menjadi “plin-plan” atau “suka berubah-ubah pendirian”.
Zhuangzi sendiri punya tafsiran yang lebih halus. Menurutnya, Ju Gong itu bijaksana: ia tidak mengurangi apa pun yang penting, tetapi mau mengikuti perasaan monyet-monyetnya sehingga semua pihak puas. Sedangkan monyet-monyet itu, yang marah dan gembira atas hal yang sama, menggambarkan kita yang sering bertengkar tentang sesuatu yang sebenarnya tidak berbeda.
Kita mungkin tersenyum membaca kisah ini. Tetapi coba pikirkan: berapa kali kita merasa senang dengan “diskon” yang sebenarnya hanya permainan angka, atau marah pada sesuatu hanya karena cara penyampaiannya, bukan isinya?
💖 Pesan Moral
- Lihatlah isinya, bukan hanya kemasannya. Jangan mudah terkecoh oleh permainan kata dan angka.
- Banyak pertengkaran sebenarnya tentang hal yang sama, hanya cara memandangnya yang berbeda.
- Cara menyampaikan sesuatu sangat penting. Pesan yang sama bisa diterima atau ditolak tergantung bagaimana kita mengatakannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhuangzi, bab “Qi Wu Lun”, dan versi yang lebih panjang dalam Liezi, bab “Huang Di”, asal-usul peribahasa 朝三暮四.