Menutup Telinga, Mencuri Lonceng (掩耳盗铃)
Lonceng perunggu (bianzhong) dari makam Marquis Yi dari Zeng, abad ke-5 SM. Bunyi lonceng seperti inilah yang coba "diredam" si pencuri dengan menutup telinganya. Gambar: Windmemories · CC BY-SA 4.0 · sumber
Pada zaman Musim Semi dan Musim Gugur, keluarga bangsawan Fan di negeri Jin jatuh dari kekuasaan. Rumah mereka ditinggalkan, dan barang-barangnya terbengkalai. Kabar itu menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang pencuri kecil yang tinggal tidak jauh dari sana.
Suatu malam, pencuri itu menyelinap masuk ke halaman rumah keluarga Fan. Matanya langsung berbinar ketika melihat sebuah lonceng perunggu besar tergantung di sana. Lonceng itu indah, berukir halus, dan pasti sangat mahal kalau dijual.
“Ini dia rezekiku,” bisiknya.
Ia mencoba mengangkatnya, tetapi lonceng itu terlalu berat untuk dipanggul sendirian. Ia pun berpikir keras. “Kalau tidak bisa dibawa utuh, aku pecah saja menjadi beberapa bagian, lalu kubawa sedikit demi sedikit.”
Ia mengambil sebuah palu dan mengayunkannya ke lonceng itu.
Dooonnnggg!
Bunyi yang dahsyat menggema memenuhi malam yang sunyi. Pencuri itu terlonjak kaget. Jantungnya berdebar kencang. “Gawat! Kalau bunyinya sekeras ini, semua orang akan mendengar dan datang menangkapku!”
Dalam kepanikan, ia segera menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan tangan. Suara lonceng yang masih bergaung itu kini terdengar sayup-sayup saja di telinganya.
Pencuri itu tersenyum lega. “Nah, begini lebih baik. Kalau aku sendiri tidak mendengarnya, tentu orang lain juga tidak.”
Ia pun menyumbat telinganya dengan kain, lalu mulai memukul lonceng itu lagi dengan sekuat tenaga. Dong! Dong! Dong! Bunyi itu bergema ke seluruh penjuru kampung, sementara si pencuri bekerja dengan tenang, yakin bahwa tidak ada yang mendengar.
Kitab aslinya tidak menceritakan bagaimana nasib si pencuri sesudah itu. Tetapi kita semua bisa menebaknya: bunyi lonceng tidak menjadi lebih pelan hanya karena pemukulnya menutup telinga.
Kisah dalam kitab Lüshi Chunqiu ini aslinya bercerita tentang seseorang yang menutup telinganya sendiri ketika memukul lonceng curian. Kitab itu memakainya untuk menyindir penguasa yang tidak mau mendengar kritik: menutup telinga dari kesalahan diri sendiri tidak membuat kesalahan itu hilang, malah memastikan diri sendirilah yang paling terakhir tahu. Seiring waktu, ceritanya dikenal dengan “lonceng” (钟) diganti menjadi “giring-giring” (铃), sehingga peribahasanya menjadi 掩耳盗铃 (yǎn ěr dào líng), “menutup telinga mencuri lonceng”.
Peribahasa ini dipakai untuk orang yang membohongi dirinya sendiri, berpura-pura masalah tidak ada hanya karena ia memilih untuk tidak melihat atau mendengarnya.
💖 Pesan Moral
- Menipu diri sendiri tidak mengubah kenyataan. Masalah yang kita abaikan tetap terdengar oleh orang lain.
- Dengarkan kritik, jangan menutup telinga. Orang yang menolak mendengar biasanya yang paling terakhir tahu.
- Kejujuran menyelamatkan, sedangkan kecurangan cepat atau lambat akan terbongkar.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Lüshi Chunqiu (Musim Semi dan Gugur Tuan Lü), bab “Zi Zhi”, sekitar 239 SM, asal-usul peribahasa 掩耳盗铃 (versi awalnya 掩耳盗钟).