Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Kabayan Membayar Utang

3 menit baca

Ayam jantan yang gagah, seperti yang menghabiskan uang dagangan Kabayan. Gambar: Adrian Timoty Tjoa · CC BY-SA 4.0 · sumber

Kemarau panjang membuat sawah retak-retak dan dapur Si Kabayan kosong. Nyi Iteung sudah kehabisan cara untuk membujuk suaminya.

“Kang, cobalah berdagang. Orang lain bisa, masa Akang tidak?”

Kabayan pun meminjam uang kepada seorang juragan kaya di kampung itu. Mengherankan juga, dagangannya di pasar laku semua. Namun di jalan pulang ia melihat seekor ayam jantan besar yang gagah sekali. Bulunya merah menyala, dan kokoknya terdengar sampai ke seberang lembah. Uang di tangan Kabayan pun berpindah kepada penjual ayam, tanpa sedikit pun teringat pada utangnya.

Beberapa minggu kemudian, penagih utang mulai datang. Kabayan menjawab dengan seribu alasan. Besok, lusa, setelah panen, setelah hujan. Sang juragan akhirnya kehabisan sabar dan berkata akan membawa perkara ini kepada kepala desa. Ia juga mengabarkan bahwa ia sendiri akan datang menagih.

Kabayan duduk di beranda sambil berpikir. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Nyi, Akang mau ke kota. Kalau juragan datang, bilang saja utangnya akan dibayar dengan ayam seberang, ayam yang sangat mahal. Ayamnya ada di dalam kurung itu.”

Nyi Iteung mengangguk tanpa curiga. Begitu istrinya pergi ke dapur, Kabayan mengambil kapas dan bulu ayam yang ia kumpulkan, menempelkannya di sekujur tubuh, lalu masuk ke dalam kurung ayam besar di halaman dan menutupinya.

Sang juragan tiba dengan wajah masam. Nyi Iteung menyampaikan pesan suaminya sambil menunjuk kurung itu. Mata sang juragan langsung bersinar. Ayam seberang! Sudah lama ia mendengar ada ayam mahal seperti itu. Ia membuka kurung dengan bersemangat.

Tiba-tiba seekor makhluk putih besar melompat keluar, berlari kencang melintasi halaman sambil berkotek keras, dan terjun ke sungai. Air bercipratan. Makhluk itu tidak muncul lagi. Kabayan sudah menyelam dan bernapas lewat sebatang bambu berlubang yang ia siapkan di balik rumpun.

Nyi Iteung, yang tidak tahu apa-apa, menjerit dan menangis.

“Aduh, Juragan! Itu harta kami satu-satunya! Sekarang habis sudah!”

Sang juragan berdiri mematung. Ia melihat perempuan itu tersedu-sedu dan memandang dapur yang kosong. Kerasnya hati orang kaya itu pun mencair, dan ia merasa bersalah telah membuka kurung tersebut dengan kasar.

“Sudahlah, Nyi. Jangan menangis,” katanya akhirnya. “Anggap saja utangnya lunas. Saya yang salah.”

Sang juragan pun pulang. Dari balik rumpun di tepi sungai, sepasang mata mengintip sambil menahan bersin, sebab bulu ayam dan air sungai ternyata tidak nyaman di hidung. Saat malam tiba, seorang lelaki basah kuyup menyelinap pulang. Nyi Iteung memandang bulu-bulu di rambut suaminya, dan butuh waktu lama sebelum ia mau bicara lagi dengannya.

💖 Pesan Moral

  • Utang itu dibayar, bukan dihindari. Tipu daya Kabayan lucu sebagai cerita, tetapi tak ada yang ingin bertetangga dengannya dalam kehidupan nyata.
  • Jangan biarkan pasangan menanggung ulah kita. Air mata Nyi Iteung sungguhan, dan itulah yang paling mahal dari ayam seberang itu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sunda tentang Si Kabayan, salah satu versi.