Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Kelinci Kecil dan Singa di Dalam Sumur

3 menit baca

Singa menatap bayangannya sendiri di dalam sumur (folio Kalila wa Dimna, The Met). Gambar: Pelukis tak dikenal (naskah Kalila wa Dimna); foto: The Metropolitan Museum of Art · CC0 · sumber

Di sebuah hutan lebat, hiduplah seekor singa bernama Bhasuraka. Ia kuat, ganas, dan sangat rakus. Setiap hari ia berburu bukan hanya karena lapar, tetapi karena senang membunuh. Kijang, kerbau, babi hutan, dan kelinci berjatuhan satu per satu. Para penghuni hutan hidup dalam ketakutan.

Akhirnya semua binatang berkumpul dan memberanikan diri menghadap sang singa. “Wahai Raja Hutan,” kata mereka, “jika Baginda terus berburu seperti ini, sebentar lagi hutan ini akan kosong dan Baginda sendiri akan kelaparan. Biarlah kami mengirimkan satu binatang setiap hari untuk menjadi santapan Baginda, asalkan Baginda tidak lagi berburu sembarangan.”

Singa itu menimbang-nimbang, lalu setuju. “Baiklah. Tetapi jika suatu hari makananku terlambat datang, aku akan memangsa kalian semua.”

Sejak itu, setiap hari para binatang mengundi siapa yang harus pergi. Suatu hari, undian jatuh pada seekor kelinci kecil. Semua binatang menatapnya dengan sedih. Tetapi kelinci itu justru berpikir keras. “Kalau aku memang harus mati, mengapa tidak kucoba dulu satu akal?”

Ia berjalan sangat pelan. Ia berhenti di sana-sini, memikirkan rencana, dan sengaja tiba di sarang singa jauh setelah lewat waktu makan. Singa itu sudah mondar-mandir dengan marah, perutnya keroncongan.

“Kelinci sekecil ini? Dan terlambat pula! Kau akan kumakan, lalu besok kubunuh semua binatang di hutan ini!”

Kelinci membungkuk dalam-dalam. “Ampun, Baginda. Ini bukan salah kami. Para binatang sebenarnya mengirim lima ekor kelinci, karena tahu satu ekor tidak cukup untuk Baginda. Tetapi di tengah jalan kami dihadang singa lain yang sangat besar. Ia berkata hutan ini miliknya, dan Baginda hanyalah pencuri. Empat saudaraku ditahannya. Aku disuruh datang untuk menyampaikan tantangannya.”

Mata singa itu menyala. “Singa lain? Di hutanku? Tunjukkan di mana dia!”

Kelinci membawanya ke sebuah sumur tua yang dalam, dengan air yang tenang di dasarnya. “Ia bersembunyi di dalam benteng ini, Baginda.”

Singa itu melongok ke dalam sumur. Di permukaan air, ia melihat seekor singa yang balas menatapnya dengan garang. Ia mengaum, dan dari dalam sumur terdengar auman yang menggema lebih keras. Dengan amarah yang membutakan, singa itu melompat menerkam lawannya, dan tenggelam di dalam sumur itu.

Kelinci kecil kembali ke tengah hutan dan menceritakan semuanya. Para binatang bersorak. Sejak hari itu mereka hidup dengan tenang, dan tidak ada lagi yang meremehkan kelinci kecil itu.

💖 Pesan Moral

  • Akal yang jernih bisa mengalahkan kekuatan yang besar. Ukuran tubuh bukan ukuran kemampuan.
  • Kesombongan dan amarah membutakan, sampai seseorang tidak lagi bisa membedakan musuh dengan bayangannya sendiri.
  • Dalam situasi terdesak, jangan langsung menyerah; selalu ada ruang untuk berpikir.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel dalam Buku Pertama Panchatantra, kumpulan cerita India kuno yang dikaitkan dengan Wisnu Sarma. Kisah ini juga dikenal dalam versi Persia-Arab, Kalila wa Dimna.