Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Hachiko, Anjing yang Menunggu Hampir Sepuluh Tahun

3 menit baca

Hachiko di Stasiun Shibuya sekitar tahun 1933. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber

Pada Januari 1924 seekor anak anjing Akita tiba di Tokyo dalam keranjang, setelah perjalanan kereta yang melelahkan dari Odate. Ia begitu lemah sampai dikira mati. Pemiliknya yang baru, Hidesaburo Ueno, profesor di Universitas Kekaisaran Tokyo, dan pasangannya, Yaeko Sakano, merawatnya berbulan-bulan hingga pulih. Mereka memanggilnya Hachi. Ueno sangat menyayanginya, sampai membiarkannya tidur di bawah tempat tidurnya.

Ueno pergi bekerja setiap hari lewat Stasiun Shibuya. Tiap sore Hachi keluar rumah menjemputnya di stasiun. Orang-orang di sekitar stasiun lambat laun mengenal pasangan itu.

Kebersamaan itu berakhir mendadak. Pada 21 Mei 1925 Ueno meninggal karena gangguan pembuluh darah otak saat sedang bekerja. Hachi baru berumur satu setengah tahun. Sore itu ia tetap menunggu di stasiun. Ketika Ueno tak pulang, ia mencari-carinya.

Yaeko harus pindah dan tidak bisa membawa semua anjingnya. Hachi dititipkan ke beberapa rumah, bahkan sempat dibawa ke pedesaan, tetapi ia berulang kali kabur atau kembali ke lingkungan lamanya. Akhirnya ia tinggal bersama keluarga Kobayashi, keluarga tukang kebun Ueno, yang rumahnya dekat stasiun. Sejak itu ia kembali datang ke Shibuya hampir setiap hari, muncul di depan gerbang tiket sekitar waktu kereta tiba.

Kisah ini tidak selalu manis. Karena sering sendirian, Hachi dianggap anjing liar. Sebagian petugas, pedagang, penumpang, dan anak-anak menendangnya, dan penjual sate menyiramnya dengan air. Ia juga berurusan dengan para penangkap anjing.

Nasibnya berubah karena seorang pencinta anjing Akita, Hirokichi Saito. Tulisan yang ia kirim dimuat harian Asahi Shimbun pada 4 Oktober 1932, menceritakan anjing tua yang tujuh tahun menanti tuannya. Hachi langsung terkenal di seluruh Jepang. Orang berdatangan menjenguknya, dan sejak itu ia dipanggil Hachiko, dengan akhiran penuh kasih sayang. Pematung Teru Ando membuat patung perunggunya, yang diresmikan di stasiun pada 21 April 1934, dengan Hachiko sendiri hadir.

Pagi hari tanggal 8 Maret 1935, sekitar pukul enam, ia ditemukan tak bernyawa di dekat Jembatan Inari, Shibuya. Umurnya 11 tahun. Ia telah menunggu selama sembilan tahun sembilan bulan. Pemeriksaan modern terhadap organ tubuhnya menemukan kanker dan infeksi cacing jantung. Patung pertamanya dilebur saat Perang Dunia II, dan penggantinya kini menjadi tempat janji temu paling terkenal di Tokyo. Tubuhnya diawetkan dan dipamerkan di museum, sedangkan abunya disemayamkan di Pemakaman Aoyama, tempat Ueno beristirahat.

Mengapa ia terus datang? Kita tak bisa bertanya kepadanya. Mungkin ia setia, mungkin itu kebiasaan, mungkin juga karena stasiun adalah tempat yang ia kenal. Orang-orang yang menyaksikannya memilih kata setia, dan bangsa Jepang menjadikannya teladan.

💖 Pesan Moral

  • Kesetiaan tidak menuntut orang lain mengerti. Hachiko terus datang, baik saat disayang maupun disakiti.
  • Perhatikan yang kita anggap gangguan. Yang dianggap anjing liar ternyata sedang menunggu seseorang.
  • Satu tulisan bisa mengubah perlakuan orang banyak. Hachiko tetap anjing yang sama, tetapi setelah kisahnya dimuat koran orang mulai melihatnya.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Hachiko dan Profesor Hidesaburo Ueno di Shibuya, Tokyo.