Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ignaz Semmelweis dan Cuci Tangan

3 menit baca

Ignaz Semmelweis, dari ukiran karya Jenő Doby. Gambar: After Jenő Doby's engravig · Public domain · sumber

Di Rumah Sakit Umum Wina pada 1840-an ada dua klinik bersalin. Di Klinik Pertama, rata-rata satu dari sepuluh ibu meninggal karena demam nifas. Di Klinik Kedua, angkanya di bawah empat persen. Perbedaan itu begitu terkenal sampai para perempuan berlutut memohon agar tidak dimasukkan ke Klinik Pertama.

Dokter muda Ignaz Philipp Semmelweis, kelahiran Buda (kini bagian dari Budapest) pada 1 Juli 1818, menjadi asisten di Klinik Pertama sejak 1 Juli 1846. Ia terganggu oleh angka itu. Satu perbedaan mencolok antara kedua klinik: Klinik Pertama dilayani para dokter dan mahasiswa kedokteran, sedangkan Klinik Kedua oleh para bidan. Tetapi mengapa hal itu berpengaruh?

Jawabannya datang lewat kehilangan. Pada 1847 sahabatnya, Jakob Kolletschka, tertusuk pisau bedah seorang mahasiswa saat melakukan autopsi, lalu meninggal. Hasil autopsi Kolletschka memperlihatkan kelainan yang mirip dengan yang ditemukan pada para ibu korban demam nifas. Semmelweis segera menarik kesimpulan yang mengerikan: para dokter yang datang langsung dari ruang autopsi membawa sesuatu dari jenazah ke tubuh para ibu. Teori kuman belum diterima saat itu, jadi ia hanya bisa menyebutnya “bahan dari mayat”.

Pada pertengahan Mei 1847 ia mewajibkan dokter dan mahasiswa mencuci tangan dengan larutan kapur berklorin antara pekerjaan autopsi dan pemeriksaan pasien. Larutan itu ia pilih karena paling ampuh menghilangkan bau busuk dari tangan. Hasilnya tercatat rapi. Pada April 1847 angka kematian di Klinik Pertama 18,3 persen. Pada Juni turun menjadi 2,2 persen, Juli 1,2 persen, dan Agustus 1,9 persen.

Orang mungkin mengira penemuan semacam itu akan langsung dirayakan. Ternyata tidak. Sebagian dokter tersinggung karena disiratkan bahwa tangan merekalah yang membunuh pasien. Gagasannya bertentangan dengan pandangan kedokteran masa itu, dan ia tak bisa menjelaskan mekanismenya. Pada 1849 masa jabatannya sebagai asisten tidak diperpanjang. Ia terus dikucilkan di Wina, dan akhirnya pindah ke Pest (kini bagian dari Budapest).

Pada 1861 ia menerbitkan buku tentang penyebab dan pencegahan demam nifas, yang juga kurang diterima. Ia makin getir, menulis surat-surat terbuka yang penuh amarah kepada para ahli kebidanan Eropa, bahkan menyebut mereka pembunuh yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang di sekitarnya, termasuk istrinya, mengira ia kehilangan akal sehat. Pada 1865 ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Menurut sejumlah catatan, di sana ia dipukuli para penjaga. Dua minggu kemudian, pada 13 Agustus 1865, ia meninggal karena infeksi dari luka yang asal-usulnya masih diperdebatkan. Usianya 47 tahun.

Beberapa tahun sesudah kematiannya, Louis Pasteur meneguhkan teori kuman dan Joseph Lister mengembangkan pembedahan antiseptik. Barulah gagasan Semmelweis mendapat penjelasan ilmiah. Hari ini mencuci tangan adalah hal pertama yang diajarkan kepada setiap tenaga kesehatan, dan namanya dikenang sebagai “penyelamat para ibu”.

💖 Pesan Moral

  • Angka yang tidak enak dilihat harus ditanyai, bukan dibiarkan. Semua orang tahu Klinik Pertama lebih berbahaya, tetapi hanya sedikit yang mencari sebabnya.
  • Bukti saja belum cukup; orang perlu mau mendengar. Sulit menerima kenyataan bahwa kita sendirilah sumber masalahnya.
  • Kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang bisa diterima. Marah pada orang yang salah sering tidak membuat mereka berubah.
  • Cuci tangan sebelum menyentuh orang sakit. Pelajaran yang harganya sangat mahal ini kini gratis.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Ignaz Semmelweis. Keterangan mengenai keadaan jiwanya dan sebab pasti lukanya pada akhir hayat tidak sepenuhnya pasti.