Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Florence Nightingale, Sang Pembawa Lampu

3 menit baca

Florence Nightingale dalam foto tahun 1858. Gambar: Hering · Public domain · sumber

Pada malam hari, ketika para dokter sudah beristirahat dan kegelapan turun di sepanjang deretan prajurit yang sakit, seorang perempuan terlihat berjalan sendirian dengan lampu kecil di tangannya. Begitulah kurang lebih laporan surat kabar The Times pada masa Perang Krimea. Gambaran itu melekat di hati orang Inggris, dan penyair Henry Wadsworth Longfellow memperkuatnya lewat sajak “Santa Filomena” pada 1857. Sejak itu dunia mengenalnya sebagai The Lady with the Lamp.

Florence Nightingale lahir pada 12 Mei 1820 dari keluarga Inggris yang berada. Keluarganya tidak membayangkan ia menjadi perawat, pekerjaan yang saat itu dipandang rendah. Namun ia berkeras. Pada 1847 ia berkenalan dengan Sidney Herbert, politikus yang kelak menjadi Menteri Perang dan sahabat dekatnya.

Pada 1854 Inggris dan Prancis berperang melawan Rusia. Laporan mengerikan tentang nasib prajurit yang terluka sampai ke London. Dengan izin Herbert, Nightingale berangkat pada 21 Oktober 1854 bersama 38 perawat sukarela, termasuk para biarawati. Awal November mereka tiba di barak Selimiye di Scutari, seberang Konstantinopel.

Yang mereka temukan lebih parah daripada laporan. Tenaga medis kewalahan, pejabat acuh, obat-obatan kurang. Sepanjang musim dingin pertamanya di sana, 4.077 prajurit Inggris meninggal, dan penyakit seperti tifus, kolera, dan disentri membunuh sepuluh kali lebih banyak daripada luka pertempuran. Rumah sakit itu penuh sesak, saluran pembuangannya rusak, dan ventilasinya buruk.

Nightingale mengirim permohonan lewat The Times agar pemerintah bertindak. Pada Maret 1855 Komisi Sanitasi tiba, membersihkan saluran pembuangan, dan memperbaiki ventilasi. Angka kematian turun tajam. Di sini sejarah perlu dibaca dengan cermat. Kamus biografi lama menyebut ia menurunkan angka kematian dari 42 persen menjadi 2 persen, tetapi Nightingale sendiri tidak pernah mengklaim jasa itu. Sebagian penulis modern menilai perannya di Krimea dibesar-besarkan, sedangkan peneliti seperti Lynn McDonald menolak kritik itu karena tak didukung sumber primer. Pekerjaan besarnya pun belum selesai ketika perang berakhir.

Ia pulang dengan kesehatan yang rusak setelah sakit parah di medan perang, dan bersama itu ia membawa pengalaman serta angka-angka. Ia mahir statistik, dan menyajikan data kematian dalam diagram melingkar yang kini dikenal sebagai diagram mawar Nightingale, supaya para pengambil keputusan mudah melihat bahwa kematian terbesar bisa dicegah. Pada 1860 ia mendirikan sekolah perawat di Rumah Sakit St Thomas, London, yang sering disebut sebagai sekolah perawat sekuler pertama di dunia. Lewat lembaga itu, keperawatan berubah menjadi profesi terdidik bagi perempuan.

Ia wafat pada 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun.

💖 Pesan Moral

  • Kebaikan hati perlu ditemani data. Lampu menghibur satu orang; diagram mengubah kebijakan untuk ribuan orang.
  • Kebersihan menyelamatkan nyawa. Musuh terbesar di Scutari adalah saluran pembuangan, bukan peluru.
  • Pengakuan yang berlebihan tidak perlu diambil. Nightingale tidak mengklaim penurunan angka kematian sebagai jasanya.
  • Pekerjaan yang diremehkan bisa diangkat martabatnya oleh orang yang mau menyusun standarnya.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Florence Nightingale. Besar peran pribadinya dalam penurunan angka kematian di Scutari masih diperdebatkan para sejarawan.