Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Nelson Mandela dan Pulau Robben

3 menit baca

Bagian B Penjara Keamanan Maksimum di Pulau Robben, tempat Mandela ditahan. Gambar: Moheen Reeyad · CC BY-SA 4.0 · sumber

Sel itu berukuran sekitar 2,4 kali 2,1 meter, dindingnya beton dan lembap. Seorang lelaki bertubuh jangkung tidur di sana bertahun-tahun di atas tikar tipis. Tahun 1964 Nelson Rolihlahla Mandela berusia 45 tahun, seorang pengacara dan pemimpin perlawanan terhadap apartheid di Afrika Selatan. Ia baru saja dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Jalan menuju sel itu ia pilih dengan sadar. Mandela ikut mendirikan Umkhonto we Sizwe pada 1961, sayap bersenjata yang memimpin kampanye sabotase terhadap sasaran seperti instalasi militer dan pembangkit listrik, biasanya pada malam hari agar warga sipil tidak terkena. Ia ditangkap pada 1962, lalu diadili bersama rekan-rekannya dalam Pengadilan Rivonia. Di ruang sidang ia berpidato tiga jam, yang kemudian dikenal dengan judul “I Am Prepared to Die”. Ia menyatakan siap mati demi cita-cita masyarakat yang bebas. Ia dinyatakan bersalah, dan hukuman mati benar-benar mengancam. Pada 12 Juni 1964 hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup.

Ia dipindahkan ke Pulau Robben, penjara di lepas pantai Cape Town, dan tinggal di sana selama 18 tahun. Para sipir kulit putih kerap melecehkannya. Siang hari para tahanan memecah batu menjadi kerikil, lalu sejak Januari 1965 dipindahkan ke tambang kapur. Mula-mula ia dilarang memakai kacamata hitam, dan silaunya kapur merusak penglihatannya secara permanen. Selama bertahun-tahun anak-anak perempuannya tidak bisa menjenguk; kunjungan pertama mereka baru terjadi pada Desember 1975.

Di tempat yang dirancang untuk mematahkan orang, para tahanan membangun sesuatu yang tidak direncanakan penjara: sebuah sekolah. Pada malam hari Mandela mengerjakan gelar hukumnya lewat program jarak jauh. Mereka saling mengajar dan berdiskusi, sampai kegiatan itu dijuluki “Universitas Pulau Robben”. Ia juga belajar bahasa Afrikaans, bahasa para sipirnya, dengan harapan bisa membangun rasa saling menghormati dan meyakinkan mereka.

Pada April 1982 ia dipindahkan ke Penjara Pollsmoor, tempat ia diizinkan membuat kebun di atap, lalu ke Penjara Victor Verster. Sementara itu tekanan dalam negeri dan dunia terus menguat. Pada Februari 1990 Presiden F.W. de Klerk mengumumkan pembebasannya, setelah sekitar 27 tahun di balik jeruji.

Setelah bebas, ia berunding dengan de Klerk untuk mengakhiri apartheid, dan keduanya menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Pada 10 Mei 1994 ia dilantik di Pretoria sebagai presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Sebagai presiden ia menemui tokoh-tokoh rezim lama, termasuk Percy Yutar, jaksa yang dahulu menuntut hukuman untuknya, dan janda Hendrik Verwoerd, perdana menteri arsitek apartheid. Ia berkata bahwa orang yang berani tidak takut memaafkan, demi perdamaian. Ia wafat pada 5 Desember 2013.

💖 Pesan Moral

  • Tempat yang menyempitkan tubuh tak harus menyempitkan pikiran. Sel kecil itu menjadi ruang belajar.
  • Pelajari bahasa lawanmu. Mandela belajar Afrikaans untuk memahami dan meyakinkan mereka yang menjaganya.
  • Memaafkan bisa menjadi keputusan politik yang paling berani. Sebuah negara bisa terbakar bila pemimpinnya memilih membalas.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Nelson Mandela.