Dewi Sartika dan Sekolah Isteri
Potret Raden Dewi Sartika, perintis pendidikan perempuan di Tanah Sunda. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber
Di Cicalengka, sekitar tahun 1890-an, orang-orang heran karena anak-anak pembantu di kepatihan mendadak bisa membaca dan menulis. Guru mereka seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun. Sepulang sekolah ia suka bermain sekolah-sekolahan dan selalu mengambil peran guru, dan rupanya permainan itu sungguh-sungguh mengajarkan sesuatu. Nama anak itu Dewi Sartika, lahir pada 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, putri Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas.
Pada 1893 keluarganya runtuh. Ayahnya dituduh terlibat perkara pemasangan dinamit, lalu dibuang ke Ternate bersama istrinya, dan harta keluarga hampir seluruhnya disita. Dewi Sartika dititipkan kepada pamannya, Patih Cicalengka. Sebagai anak titipan ia mendapat perlakuan yang berbeda dan pendidikannya menjadi terbatas. Ayahnya meninggal di pengasingan. Ketika ibunya pulang dari Ternate seorang diri, Dewi Sartika melihat langsung betapa tidak berdayanya seorang perempuan yang kehilangan suami dan tidak dibekali keterampilan apa pun.
Pada 1899 ia pindah ke Bandung, membawa tekad untuk membuka sekolah khusus bagi anak perempuan. Ia menghadap langsung kepada Bupati Bandung, Raden Adipati Aria Martanagara, seorang yang berpikiran cukup maju. Inspektur Kantor Pengajaran, Den Hamer, juga mendukungnya.
Pada 16 Januari 1904, Sakola Istri dibuka di Pendopo Kabupaten Bandung. Usia pendirinya baru sembilan belas tahun. Di sana anak-anak perempuan belajar membaca, menulis, berhitung, agama, dan berbagai keterampilan seperti menjahit dan memasak. Sekolah itu menjadi sekolah perempuan pertama di wilayah Jawa Barat.
Sekolah itu terus tumbuh. Pada 1905 tempatnya pindah ke Jalan Ciguriang, dan sekitar 1910 namanya berubah menjadi Sakola Kaoetamaan Istri. Pada 1912 Dewi Sartika menuangkan gagasannya dalam buku Kautamaan Istri, yang terbit di Bandung. Pada tahun yang sama, 1912, sudah ada sembilan sekolah sejenis di Jawa Barat, dan pada 1920 setiap kota dan kabupaten di sana memilikinya. Pada September 1929 namanya berganti lagi menjadi Sakola Raden Dewi.
Masa-masa sulit datang kemudian. Pendudukan Jepang mengubah nama dan kurikulum sekolah itu, dan keuangannya terpuruk. Sesudah kemerdekaan, kesehatan Dewi Sartika menurun. Ketika Belanda melancarkan agresi militer, ia terpaksa mengungsi ke arah Tasikmalaya. Ia wafat di Cineam pada 11 September 1947. Setelah keadaan aman, makamnya dipindahkan ke Bandung, kota tempat ia merintis semuanya. Pada 1966 pemerintah Indonesia mengakuinya sebagai Pahlawan Nasional.
💖 Pesan Moral
- Luka keluarga bisa menjadi alasan untuk bergerak. Penderitaan ibunya memberi Dewi Sartika alasan yang jelas: perempuan perlu bekal agar tidak bergantung pada nasib.
- Mulailah dari yang ada di depan mata. Sebelum punya sekolah, ia mengajar anak-anak di sekitar rumah dengan alat seadanya.
- Gagasan yang baik perlu diantar ke orang yang tepat. Ia berani menghadap bupati, dan dukungan itulah yang membuka pintu pendopo.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Raden Dewi Sartika. Ejaan nama sekolahnya berbeda-beda di sumber lama (Sakola Istri, Sekolah Isteri, Sakola Kaoetamaan Istri).