Kartini dan Surat dari Balik Pingitan
Museum R.A. Kartini di Jepara, kota tempat ia dibesarkan dan menulis sebagian besar suratnya. Gambar: Midori · CC BY 3.0 · sumber
Seorang gadis berusia dua belas tahun harus berhenti sekolah, dan bagi anak bupati di Jawa pada akhir abad ke-19, hal itu dianggap wajar. Raden Ajeng Kartini, lahir pada 21 April 1879, adalah putri Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat, Bupati Jepara. Ayahnya cukup maju untuk mengizinkannya belajar di sekolah dasar Eropa, sesuatu yang langka bagi anak perempuan Jawa. Di sana ia menjadi fasih berbahasa Belanda. Namun begitu remaja, adat berlaku: ia harus masuk pingitan, tinggal di dalam rumah sampai ada lelaki yang meminangnya.
Pintu rumah tertutup, tetapi buku dan pena tetap ada. Kartini membaca apa saja yang bisa ia dapatkan, termasuk terbitan tentang gerakan perempuan. Mulai 1896 ayahnya sesekali mengizinkannya keluar, misalnya mengunjungi desa para pengukir kayu. Semakin ia mengenal dunia di luar tembok, semakin banyak pertanyaannya tentang nasib orang-orang di sekitarnya.
Pada 1899 ia mulai berkirim surat dengan Estelle Zeehandelaar, yang biasa disapa Stella, seorang perempuan muda dari Amsterdam yang menghidupi dirinya sendiri. Kepada Stella, Kartini menulis terus terang tentang perempuan Jawa yang tidak bebas bersekolah, dipingit, dinikahkan dengan lelaki yang tidak dikenalnya, dan harus bersedia dimadu. Ia juga bersurat dengan Rosa Abendanon, istri J.H. Abendanon, pejabat kolonial yang mengurusi pendidikan. Rosa menjadi sahabat dan penerima surat utamanya.
Cita-citanya sederhana untuk ukuran sekarang dan berani untuk ukuran saat itu: ia ingin belajar lebih tinggi, lalu mendidik anak-anak perempuan bumiputra. Ia bahkan hampir mendapat jalan untuk bersekolah di Betawi. Namun rencana itu tidak terwujud.
Pada November 1903 Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadiningrat, seorang lelaki yang sudah pernah memiliki beberapa istri dan beberapa anak. Bagi perempuan yang pernah menulis begitu tajam tentang poligami, pernikahan ini terasa pahit, dan para pembacanya sampai kini masih memperdebatkannya. Surat-suratnya menunjukkan sisi lain: suaminya mendukung gagasannya tentang sekolah bagi perempuan bumiputra, ukiran Jepara, dan penulisan buku. Di Rembang ia diberi keleluasaan membuka sekolah perempuan di dekat kompleks kantor kabupaten.
Waktunya ternyata sangat singkat. Pada 13 September 1904 ia melahirkan putra satu-satunya, Soesalit. Empat hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dalam usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.
Kisahnya bisa saja berhenti di situ, seandainya surat-surat itu tidak disimpan. Pada 1911 J.H. Abendanon mengumpulkan dan menerbitkannya dengan judul Door Duisternis tot Licht. Pada 1922 Balai Pustaka menerbitkan terjemahannya dalam bahasa Melayu, Habis Gelap Terbitlah Terang. Perlu dicatat, edisi 1911 itu sudah melalui penyuntingan, sehingga sebagian isinya tidak utuh seperti aslinya. Meski begitu, pikiran seorang gadis yang pernah dikurung di dalam rumah kini bisa dibaca ribuan orang. Sekolah-sekolah Kartini kemudian berdiri di Semarang dan kota-kota lain, dan hari lahirnya diperingati setiap tahun di Indonesia.
💖 Pesan Moral
- Tulisan bisa pergi ke tempat yang tak bisa kita datangi. Tubuh Kartini tertahan di rumah, tetapi gagasannya sampai ke Amsterdam dan bertahan lebih dari seabad.
- Cita-cita yang belum selesai tetap berharga. Ia hanya sempat merintis, dan orang lain yang melanjutkannya sesudah ia tiada.
- Tokoh besar juga hidup dalam kompromi. Pilihan Kartini tidak selalu sejalan dengan tulisannya, dan itu tidak menghapus keberaniannya bertanya.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang R.A. Kartini dan surat-suratnya. Beberapa rincian, seperti tanggal pernikahannya, berbeda di antara sumber.