Kuda Pak Tua di Perbatasan (Sai Weng Kehilangan Kuda)
Padang luas di perbatasan utara, negeri para kuda. Gambar: Giuseppe Castiglione (Lang Shining) · Public Domain · sumber
Pada zaman dahulu di negeri Tiongkok, di sebuah desa dekat perbatasan utara, hiduplah seorang lelaki tua yang dikenal bijaksana. Orang-orang memanggilnya Sai Weng, “pak tua dari perbatasan”. Ia hidup sederhana bersama putra satu-satunya, dan harta mereka yang paling berharga adalah seekor kuda yang gagah.
Suatu hari, kuda itu lepas dari kandang dan berlari jauh melintasi perbatasan, ke wilayah suku pengembara. Kuda itu hilang.
Para tetangga datang menghibur. “Sungguh malang nasibmu, Pak Tua. Kuda satu-satunya hilang begitu saja.”
Sai Weng hanya tersenyum tenang. “Siapa tahu, mungkin ini justru membawa berkah.”
Para tetangga saling pandang. Mereka pikir pak tua itu sedang menghibur dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, kuda itu pulang. Ia tidak sendirian. Ia membawa serta seekor kuda liar dari utara yang kuat dan indah. Kini Sai Weng memiliki dua ekor kuda.

Para tetangga datang lagi, kali ini untuk memberi selamat. “Sungguh beruntung engkau, Pak Tua! Kudamu kembali, dan malah membawa kuda yang lebih bagus!”
Sai Weng tetap tenang. “Siapa tahu, mungkin ini justru membawa bencana.”
Putra Sai Weng sangat senang dengan kuda baru itu dan setiap hari menungganginya. Suatu hari kuda liar itu memberontak. Pemuda itu terlempar dan jatuh dengan keras. Kakinya patah, dan sejak saat itu ia berjalan pincang.

Para tetangga kembali berdatangan. “Malang sekali, Pak Tua. Kuda itu ternyata membawa celaka bagi anakmu.”
Dan seperti biasa Sai Weng menjawab, “Siapa tahu, mungkin ini justru membawa berkah.”
Setahun kemudian, pasukan suku dari utara menyerbu perbatasan. Para pemuda di desa itu diwajibkan maju ke medan perang. Pertempurannya sangat sengit, dan sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali.
Putra Sai Weng, karena kakinya pincang, tidak ikut berperang. Ia tetap tinggal di desa, selamat, merawat ayahnya yang semakin tua.
Dari kisah inilah lahir pepatah Tionghoa yang terkenal hingga hari ini: 塞翁失马,焉知非福 (Sài wēng shī mǎ, yān zhī fēi fú), “Pak tua dari perbatasan kehilangan kudanya, siapa yang tahu itu bukan berkah?”
💖 Pesan Moral
- Jangan terburu-buru menilai sebuah peristiwa sebagai untung atau malang. Cerita hidup kita belum selesai.
- Musibah bisa menjadi jalan menuju berkah, dan keberuntungan pun bisa membawa ujian. Karena itu tetaplah rendah hati saat senang dan tetap berharap saat susah.
- Ketenangan hati membuat kita mampu melewati pasang surut hidup tanpa terombang-ambing.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah klasik dalam kitab Huainanzi (Dinasti Han, abad ke-2 SM).