Kelinci, Gajah, dan Kuda Nil Menarik Tambang
Gajah dan kuda nil berbagi tempat di Ngorongoro, Tanzania, negeri asal versi dongeng ini. Gambar: Joachim Huber from Switzerland · CC BY-SA 2.0 · sumber
Tiga binatang tinggal di sebuah pulau kecil di Afrika. Gajah, seekor jantan tua yang senang menyendiri, menguasai hutan di sisi barat, tempat rumput dan pepohonan tumbuh lebat. Kuda Nil berkubang di rawa-rawa sisi timur, menghindari terik matahari di dalam air. Di antara keduanya tinggallah Kelinci.
Pulau itu terlalu kecil bagi seekor kelinci yang ingin hidup tenang. Ke mana pun ia pergi, ia selalu berpapasan dengan salah satu dari tetangganya yang raksasa, dan keduanya selalu menyuruh-nyuruhnya. Ambilkan ini, carikan itu, minggir kamu. Karena tubuhnya jauh lebih kecil, Kelinci terpaksa menurut, meskipun hatinya mendongkol.
Suatu hari yang mendung, sambil merumput, ia mendapat gagasan yang membuat telinganya tegak.
Ia pergi ke sisi barat pulau, tempat tanaman merambat melilit batang-batang pohon. Sepanjang hari ia menarik sulur-sulur itu, mengurainya, lalu memilinnya menjadi tambang panjang yang sangat kuat. Sambil menyeret tambang itu ia berjalan pulang, dan seperti yang ia harapkan, ia bertemu Gajah.
“Gajah,” katanya lantang, “menurutmu, siapa yang lebih kuat? Kamu atau aku?”
Gajah menatapnya dengan pandangan menghina. “Pertanyaan macam apa itu? Sekali injak, tamatlah riwayatmu.”
“Belum tentu. Ayo kita buktikan. Ikatkan ujung tambang ini ke kakimu. Aku akan pergi ke tengah pulau, dan kalau kamu merasakan tambang ini disentak tiga kali, tariklah sekuat tenaga.”
Dengan malas Gajah melilitkan tambang di kakinya yang keriput. Kelinci melesat pergi, tetapi tidak berhenti di tengah pulau. Ia terus berlari ke sisi timur, tempat Kuda Nil sedang terbenam di air keruh.
“Kuda Nil, siapa yang lebih kuat di antara kita?”
“Jangan buang waktuku, Kelinci bodoh. Kamu sudah tahu jawabannya.”
“Kalau begitu, buktikan. Ikatkan tambang ini di perutmu. Kalau terasa sentakan tiga kali, tariklah.”
Kuda Nil menggerutu, tetapi akhirnya ia keluar dari air dengan tubuh kemerahan yang berkilap dan membiarkan tambang itu terikat. Kelinci berlari kembali ke tengah pulau, memegang tambang, lalu menyentaknya tiga kali.
Di barat, Gajah menancapkan kakinya dan menarik. Di timur, Kuda Nil membungkuk dan menarik. Tambang menegang seperti tali busur. Gajah terkejut; ia tak menyangka Kelinci sekuat ini. Kuda Nil terseret ke tepi, lalu menyeret balik sampai ke dalam air. Dari balik pepohonan, Kelinci menonton sambil menahan tawa. Berjam-jam kedua raksasa itu berkeringat melawan satu sama lain tanpa menyadarinya.
Ketika ia merasa keduanya sudah cukup menderita, Kelinci menggigit putus tambang itu tepat di tengah.
Kuda Nil terjungkal ke belakang dan tercebur ke air berlumpur. Gajah tersungkur ke depan dan marah bukan kepalang. Kelinci berhasil membalas dendam.
Akan tetapi dongeng dari Tanzania ini tidak berhenti di situ. Pulau itu tetap sebuah pulau kecil. Sejak hari itu, Kelinci harus mati-matian menghindari Gajah dan Kuda Nil, dan ia hidup dalam ketakutan.
💖 Pesan Moral
- Akal bisa menandingi otot, terutama saat lawan terlalu sombong untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
- Hormati yang kecil. Gajah dan Kuda Nil jatuh karena terbiasa meremehkan tetangganya.
- Pikirkan hari sesudah kemenangan. Balas dendam terasa manis sebentar, tetapi kita tetap harus hidup di pulau yang sama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Tanzania. Dongeng adu tarik tambang ini dikenal luas di Afrika dengan tokoh yang berbeda-beda.