Androcles dan Singa
Seorang pria dan singanya yang bertali di hadapan penguasa dan pasukan Romawi. Gambar: Rijksmuseum · CC0 · sumber
Suatu hari di Roma, sebuah pertunjukan besar digelar di Circus Maximus. Puluhan binatang buas yang didatangkan dari jauh dilepaskan ke arena, dan rakyat memenuhi bangku-bangku untuk menonton. Di antara semua binatang itu ada seekor singa yang membuat orang berdecak. Tubuhnya luar biasa besar, aumannya dalam, dan surainya tergerai di bahu.
Sekelompok orang hukuman digiring masuk untuk dihadapkan pada binatang-binatang itu. Salah satunya seorang budak bernama Androcles. Ia sudah setengah mati ketakutan ketika singa besar itu melihatnya dari jauh.
Singa itu berhenti mendadak, seolah-olah heran. Lalu ia berjalan mendekat dengan pelan. Penonton menahan napas. Ketika sudah sampai, singa itu mengibaskan ekornya seperti anjing yang menyambut tuannya, lalu menjilat kaki dan tangan Androcles dengan lembut.
Androcles memberanikan diri membuka mata. Ia menatap singa itu. Beberapa saat kemudian wajahnya berubah. Ia mengenalinya. Di tengah arena, manusia dan singa itu saling menyambut seperti dua sahabat lama, dan penonton berteriak riuh.
Kaisar Gaius memanggil Androcles dan bertanya mengapa binatang paling ganas itu hanya mengampuni dirinya. Androcles pun menceritakan kisahnya.
Dulu ia budak seorang pejabat Romawi yang memerintah di Afrika. Karena dicambuk setiap hari tanpa alasan, ia melarikan diri ke padang gurun yang sepi, dan siap mati di sana bila tak menemukan makanan. Di tengah terik matahari ia menemukan sebuah gua dan bersembunyi di dalamnya.
Tak lama kemudian seekor singa masuk. Kakinya pincang dan berdarah, dan ia merintih kesakitan. Androcles nyaris mati ketakutan. Tetapi singa itu mendekat dengan tenang dan mengangkat kakinya, seakan-akan meminta tolong. Androcles memberanikan diri. Ia mencabut serpihan besar yang menancap di telapak kaki itu, membersihkan nanah dan darahnya, lalu mengeringkan lukanya. Singa itu meletakkan kakinya di tangan Androcles dan tertidur.
Tiga tahun lamanya mereka tinggal di gua yang sama. Singa itu berburu dan membawakan bagian terbaik hasil buruannya, dan Androcles mengeringkan daging itu di bawah matahari karena ia tak punya api. Akhirnya ia bosan dengan kehidupan liar. Ia meninggalkan gua ketika singa sedang berburu, tetapi tiga hari kemudian ia tertangkap oleh tentara, dibawa ke Roma, dan dijatuhi hukuman mati di arena. Rupanya singa itu pun kemudian tertangkap.
Ketika cerita itu tersebar di antara penonton, mereka beramai-ramai meminta agar Androcles dibebaskan. Permintaan itu dikabulkan, dan singa itu diserahkan kepadanya.
Sejak itu orang-orang Roma sering melihat Androcles berjalan keliling kota dengan singa yang diikat tali tipis. Orang memberinya uang, menaburkan bunga pada singanya, dan berkata setiap kali berjumpa: “Inilah singa yang menjadi sahabat manusia. Inilah manusia yang menjadi tabib singa.”
💖 Pesan Moral
- Kebaikan kecil bisa kembali pada saat yang tak terbayangkan. Serpihan yang dicabut di gua menyelamatkan nyawa di arena.
- Keberanian menolong sering lahir di tengah rasa takut. Androcles tetap gemetar, tetapi tangannya bekerja.
- Rasa terima kasih tidak mengenal kedudukan. Singa itu tidak peduli bahwa penolongnya hanya seorang budak buronan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Noctes Atticae (V.14) karya Aulus Gellius abad ke-2, yang mengutip Apion. Apion mengaku menyaksikan sendiri peristiwa itu di Roma, tetapi kebenarannya tidak dapat dipastikan. Nama tokohnya dalam teks Latin ditulis Androclus. Kisah ini kemudian masuk tradisi Aesop (Indeks Perry 563).