Iktomi dan Bebek-Bebek
Bebek-bebek liar melesat meninggalkan rawa, seperti kawanan yang lolos dari Iktomi. Gambar: Theodor Kittelsen · Public domain · sumber
Perut Iktomi sudah keroncongan sejak pagi. Dalam cerita orang Dakota, ia adalah makhluk licin yang lebih suka mengakali siapa pun daripada bekerja, dan hari itu tak ada satu pun yang bisa dimakan di gubuknya. Ia keluar, berdiri di depan pintu, dan menyapu pandang ke dataran rendah di tepi sungai, mencari apa saja yang bisa mengisi perut.
“Aha!” gumamnya puas.
Di rawa-rawa, sekawanan bebek liar sedang berpesta dan menari. Dengan sayap terentang dari ujung ke ujung, mereka bergerak naik turun membentuk lingkaran besar. Di tengah lingkaran, para penyanyi terpilih duduk mengitari sebuah genderang kecil, mengangguk-angguk sambil berkedip-kedip.
Tidak lama kemudian, di jalan setapak yang berkelok di dekat situ, muncul sesosok lelaki bungkuk memanggul buntalan besar di punggungnya. Ia tertatih-tatih dengan tongkat dedalu, seakan bebannya sangat berat.
“Hei, siapa itu?” seru seekor bebek tua yang ingin tahu.
Para penabuh genderang menjulurkan leher sampai lagu mereka terhenti.
“Hei, Iktomi, Kawan Lama! Apa isi selimutmu itu? Jangan buru-buru! Berhentilah!”
“Berhenti! Tunjukkan isi selimutmu!” teriak yang lain.
“Kawan-kawan, aku tak mau mengganggu tarian kalian,” jawab Iktomi sambil menahan senyum. “Kalian pasti tidak ingin melihatnya. Menyanyilah terus, menarilah terus.”
Jawaban itu membubarkan lingkaran seketika. Semua bebek berkerumun mengelilinginya, berteriak di kedua telinganya, bahkan menyenggol buntalan misterius itu dengan sayap mereka.
“Ah, ini cuma sebungkus lagu,” kata Iktomi.
“Kalau begitu, nyanyikanlah!”
Setelah dibujuk beberapa lama, ia mengalah. Para bebek mengepakkan sayap kegirangan. Iktomi meletakkan buntalannya dengan sangat hati-hati dan berkata bahwa ia tak pernah menyanyikan lagu-lagunya di tempat terbuka. Ia harus membangun rumah jerami dulu.
Cepat sekali ia menekuk ranting-ranting dedalu dan menancapkan kedua ujungnya ke tanah, lalu menutupinya dengan buluh dan rumput tebal. Hanya ada satu lubang kecil untuk masuk. Bebek-bebek gemuk itu berbaris masuk, satu demi satu, sambil melirik buntalan lagu itu. Iktomi berdiri di samping pintu dan tersenyum.
Di dalam gelap, sebab lubang masuk sudah ditutupnya, ia mulai bersenandung dengan suara rendah dan aneh. Tiba-tiba suaranya meninggi, lalu berubah menjadi nada sendu. Inilah kata-katanya:
“Menarilah dengan mata terpejam. Siapa yang berani membuka mata, akan bermata merah selama-lamanya.”
Para bebek bangkit, merapatkan sayap ke tubuh, dan menari dengan mata tertutup rapat. Iktomi berhenti menabuh genderang, tetapi nyanyiannya makin keras dan cepat. Ia seperti bergerak-gerak di tengah lingkaran. Tak ada bebek yang berani berkedip.
Akhirnya, seekor bebek kecil bernama Skiska tak tahan lagi. Ia mengintip sedikit sekali, dan langsung memekik ngeri.
“Lari! Terbang! Iktomi sedang memuntir leher kalian!”
Bebek-bebek membuka mata. Di samping buntalan lagu itu, separuh kawan mereka sudah tergeletak. Mereka menghambur keluar lewat lubang yang didobrak Skiska dan melesat ke langit biru. Sambil terbang, mereka berseru satu sama lain, “Matamu merah!” “Matamu juga merah!” Peringatan dalam lagu itu ternyata terbukti.
Iktomi tertawa, melepaskan simpul selimutnya, dan pulang dengan bebek-bebek gemuk di dalamnya. Rumah jerami itu ia tinggalkan untuk diruntuhkan hujan dan angin.
💖 Pesan Moral
- Rasa ingin tahu mudah dimanfaatkan. Iktomi tidak memaksa siapa pun; ia cuma berkata, “Kalian pasti tidak ingin melihatnya.”
- Waspadai aturan yang menyuruhmu menutup mata. Orang yang melarang kita melihat biasanya punya alasan.
- Satu orang yang berani mengintip bisa menyelamatkan banyak orang, walaupun ia harus menanggung akibatnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Iktomi and the Ducks” dalam Old Indian Legends (1901), himpunan cerita Dakota karya Zitkala-Sa.