Ali Baba dan Empat Puluh Penyamun
Marjanah di antara guci-guci minyak, ilustrasi Albert Robida. Gambar: Albert Robida (1848-1926) · Public domain · sumber
Di sebuah kota di negeri Persia hidup dua bersaudara. Kasim menikahi perempuan kaya dan menjadi saudagar. Ali Baba menikahi perempuan miskin dan hidup dari menebang kayu. Setiap pagi ia berangkat ke hutan bersama keledainya, setiap sore ia pulang dengan seikat kayu bakar.
Suatu hari, di tengah hutan, ia melihat debu mengepul dan rombongan penunggang kuda. Ia cepat-cepat memanjat pohon. Empat puluh lelaki bersenjata berhenti di depan sebuah tebing batu. Pemimpin mereka berdiri menghadap tebing dan berseru, “Terbukalah, Sesam!” Batu itu bergeser, dan sebuah gua menganga. Mereka masuk membawa kantong-kantong berat, lalu keluar dengan tangan kosong. “Tertutuplah, Sesam!” Gua itu menutup lagi.
Setelah mereka pergi, Ali Baba turun dan mencoba kata-kata itu. Gua terbuka. Di dalamnya bertumpuk emas, sutra, dan permata, hasil rampokan bertahun-tahun. Ali Baba hanya mengambil beberapa karung emas sebanyak yang mampu dibawa keledainya, lalu pulang.
Istrinya ingin tahu berapa banyak emas itu, dan meminjam takaran dari istri Kasim. Perempuan itu curiga, lalu mengoleskan lemak di dasar takaran. Ketika takaran dikembalikan, sekeping emas menempel di sana. Kasim memaksa adiknya mengaku.
Esoknya Kasim berangkat dengan sepuluh keledai. Ia berhasil masuk, tetapi di dalam gua matanya silau, pikirannya penuh angka, dan ia lupa kata kuncinya. Ia berteriak menyebut nama biji-bijian lain, dan pintu tetap tertutup. Di situlah para penyamun menemukannya, dan ia tidak pernah pulang.
Ali Baba menemukan jasad kakaknya dan membawanya pulang diam-diam. Di rumah Kasim ada seorang pelayan perempuan bernama Marjanah, budak yang cerdasnya melebihi semua orang di kota itu. Dialah yang mengatur segalanya supaya kematian Kasim tampak wajar.
Para penyamun tahu bahwa ada orang lain yang mengetahui gua mereka. Seorang di antaranya menyelinap ke kota, menemukan rumah Ali Baba, dan menandai pintunya dengan kapur. Marjanah melihat tanda itu dan menggambar tanda serupa di semua pintu di lingkungan itu. Ketika upaya itu gagal, sang kepala penyamun datang sendiri menyamar sebagai pedagang minyak, membawa bagal yang memikul tiga puluh delapan guci. Satu berisi minyak. Tiga puluh tujuh lainnya berisi anak buahnya, menunggu aba-aba.
Ali Baba yang ramah mempersilakan tamunya bermalam. Malam itu minyak lampu di dapur habis, dan Marjanah pergi ke guci-guci di halaman. Terdengar bisikan dari dalam guci: “Sudah waktunya?” Ia mengerti seketika. Tanpa berteriak, ia menjawab dengan suara lelaki, memanaskan minyak dari guci yang asli, dan menggagalkan rencana itu sendirian.
Kepala penyamun lari, dan beberapa waktu kemudian kembali lagi dengan samaran baru sebagai saudagar sahabat putra Ali Baba. Marjanah mengenali wajah di balik samaran itu. Ia menari di hadapan para tamu dengan sebilah belati, dan pada saat yang tepat, ia mengakhiri ancaman itu untuk selamanya.
Ali Baba membebaskannya dan menikahkannya dengan putranya. Kata sandi itu memang membuka gua. Yang menyelamatkan keluarga itu adalah kepala dingin seorang budak perempuan.
💖 Pesan Moral
- Tahu batas adalah keselamatan. Ali Baba mengambil secukupnya dan pulang. Kasim terkunci di dalam karena kerakusannya.
- Jangan meremehkan orang yang kedudukannya rendah. Pahlawan kisah ini sebenarnya Marjanah, yang tak punya apa-apa selain akalnya.
- Ketenangan mengalahkan senjata. Marjanah tidak menjerit ketika mendengar suara dalam guci itu.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah yang dimasukkan Antoine Galland ke dalam Seribu Satu Malam pada abad ke-18, berdasarkan penuturan Hanna Diyab dari Aleppo. Kisah ini tidak terdapat dalam naskah Arab yang lebih tua.