Dua Anak Panah
Tempat anak panah kulit dari koleksi museum di Bashkortostan. Gambar: Лапоть · CC0 · sumber
Seorang lelaki sedang berjalan ketika sebatang anak panah menembus tubuhnya. Sakitnya bukan main. Belum sempat ia mencabutnya, anak panah kedua melesat dan menancap tepat di dekat luka pertama. Kini ia merasakan sakit dua kali lipat.
Gambaran inilah yang dipakai Buddha ketika menjelaskan kepada para biksu apa beda orang yang terlatih batinnya dengan yang tidak. Sutta pendek yang menyimpannya dikenal sebagai Sallatha Sutta, “Anak Panah”.
Orang biasa dan orang yang terlatih, kata Buddha, sama-sama merasakan sakit. Keduanya bisa terluka, lapar, tua, sakit, dan kehilangan. Pada hal ini tak ada perbedaan. Latihan batin tidak membuat kulit seseorang tahan pukulan.
Perbedaannya terlihat sesudah itu. Saat disentuh rasa sakit, orang yang tak terlatih bersedih, meratap, memukuli dada, dan kebingungan. Ia kini merasakan dua macam sakit: sakit di badan dan sakit di batin. Anak panah pertama datang dari luar. Anak panah kedua ia lepaskan sendiri.
Orang yang terlatih juga merasakan sakit di badannya, tetapi ia tidak meratap dan tidak hanyut. Baginya hanya ada satu anak panah. Yang kedua tidak pernah ia lepaskan.
Ada satu hal lagi yang dicatat sutta ini, dan bagian inilah yang sering terlewat. Orang yang kesakitan biasanya lari mencari penghibur. Karena tidak melihat jalan keluar lain, ia mengejar kesenangan indra supaya rasa sakit itu tertutup. Lalu ia terikat pada kesenangan itu, dan rasa tak suka terhadap sakit pun makin mengakar. Jadi rasa sakit dan pelariannya saling memperkuat. Orang yang terlatih tahu jalan keluar yang lain, sehingga ia tak perlu lari.
Ambillah contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini tambahan kami, bukan dari sutta. Seorang karyawan ditolak ketika melamar kenaikan jabatan. Itu anak panah pertama, dan rasanya memang menyakitkan. Lalu malam itu ia berpikir: “Aku memang tak becus. Semua orang pasti menertawakanku. Sampai kapan pun aku akan begini.” Ia memutar kembali percakapan di kepalanya, menyusun pembelaan, membayangkan masa depan yang suram. Itulah anak panah kedua, ketiga, dan keempat, dan semuanya berasal dari busurnya sendiri.
Atau seorang ibu yang kakinya terkilir. Sakitnya nyata. Namun rasa kesal karena tak bisa mengerjakan apa-apa, cemas akan pekerjaan yang tertumpuk, dan marah kepada dirinya sendiri karena tidak hati-hati, membuat seminggu istirahat terasa seperti hukuman.
Ajaran ini tidak melarang orang menangis, dan tidak menyuruh orang berpura-pura kuat. Ada duka yang memang harus dilewati. Yang diajarkan lebih sederhana dan lebih sulit: mengenali kapan rasa sakit sudah berhenti datang dari luar dan mulai kita buat sendiri, lalu menurunkan busur itu.
💖 Pesan Moral
- Rasa sakit tidak bisa selalu dihindari. Penderitaan yang kita tambahkan di atasnya bisa dikurangi.
- Tanyakan, panah mana yang sedang kurasakan. Kerap kali yang paling lama menyiksa bukan kejadiannya, tetapi cerita yang kita ulang tentang kejadian itu.
- Waspadai pelarian. Hiburan yang dipakai untuk menutup luka sering membuat luka itu tak pernah dirawat.
- Ketenangan batin itu dilatih. Ia tidak datang saat musibah terjadi jika tidak disiapkan pada hari-hari biasa.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan dalam Sallatha Sutta, Samyutta Nikaya (SN 36.6), kitab kanon Buddhis berbahasa Pali. Contoh sehari-hari adalah tambahan Gudang Inspirasi.