Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sunita, Pembuang Bunga Layu

3 menit baca

Bunga yang layu, seperti sisa persembahan yang setiap hari dibuang oleh Sunita. Gambar: VasuVR · CC BY 4.0 · sumber

Di negeri Magadha, orang-orang mempersembahkan bunga di tempat-tempat pemujaan. Bunga itu harum pada pagi hari, dan beberapa hari kemudian layu dan membusuk. Seseorang harus mengangkutnya pergi. Orang itu bernama Sunita.

Tradisi Buddhis menyimpan syair-syair yang disebut berasal dari mulutnya sendiri. Di sana ia menceritakan asal-usulnya dengan terus terang: ia lahir di keluarga rendah, miskin, dan makanannya sering tak cukup. Pekerjaannya hina di mata orang. Ia memikul bunga layu sisa persembahan dan membuangnya. Orang-orang merasa jijik kepadanya, meremehkan, dan mencelanya. Ia belajar menundukkan hati dan memberi hormat kepada banyak orang, sebab begitulah cara orang seperti dia bisa bertahan hidup.

Di masyarakat yang menilai orang dari kelahiran, garis hidup semacam itu dianggap sudah selesai sejak hari pertama. Anak pembuang bunga layu akan menjadi pembuang bunga layu. Tak ada yang mengharapkan apa-apa darinya, dan barangkali ia pun tidak.

Suatu hari, ketika ia sedang bekerja, Buddha berjalan memasuki kota utama Magadha, dengan rombongan biksu di belakangnya. Sunita melihat beliau dari kejauhan. Ia menurunkan pikulannya, membuangnya, dan mendekat untuk memberi hormat.

Bayangkan seorang pembawa sampah berdiri di pinggir jalan ketika tamu paling mulia di negeri lewat. Biasanya orang seperti itu menepi dan menunggu rombongan berlalu. Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Dalam syairnya, Sunita mengingat bahwa Buddha berhenti, berdiri diam untuknya karena belas kasih.

Ia bersujud di kaki beliau, lalu memohon agar diterima menjadi biksu. Buddha, yang menurut Sunita berbelas kasih kepada seluruh dunia, hanya menjawab, “Marilah, biksu.”

Dua patah kata itulah penahbisannya.

Sunita pergi menyepi di hutan, dan menjalankan apa yang telah diajarkan kepadanya tanpa lengah. Syairnya menyebut tiga waktu jaga pada satu malam. Pada jaga pertama ia mengingat kehidupan-kehidupannya yang lampau. Pada jaga tengah penglihatan batinnya menjadi jernih. Pada jaga akhir, ia menembus kegelapan batin yang menutupi dirinya selama ini.

Ketika malam berakhir dan matahari terbit, syair itu melanjutkan, Indra dan Brahma datang memberi hormat kepadanya dan memujinya sebagai orang mulia yang telah bebas dari kekotoran batin. Lelaki yang dulu dijauhi di jalan kini dihormati oleh para dewa.

Buddha melihatnya, lalu tersenyum, dan mengatakan sesuatu yang menjadi inti kisah ini. Seseorang menjadi brahmana, yaitu orang yang sungguh luhur, karena pengendalian diri, hidup suci, dan latihan batin. Itulah kemuliaan yang tertinggi. Kelahiran tidak termasuk dalam ukuran itu.

Kisah Sunita hanya panjangnya beberapa bait, dan karena itu tidak banyak yang kita ketahui tentang dirinya. Kita tidak tahu berapa usianya, atau seperti apa keluarganya. Kita hanya tahu pikulan bunga layu itu tak pernah ia angkat lagi.

💖 Pesan Moral

  • Martabat tidak ditentukan oleh pekerjaan. Pekerjaan paling rendah di kota itu dipikul oleh orang yang kelak dihormati para dewa.
  • Berhenti untuk seseorang adalah bentuk penghormatan. Bagi orang yang selalu dilewati, satu langkah yang tertahan bisa berarti banyak.
  • Masa lalu tidak menjadi vonis. Sunita tidak menyembunyikan asal-usulnya, dan juga tidak terikat olehnya.
  • Kesempatan perlu disambut. Ia yang meletakkan pikulan dan berjalan mendekat. Langkah itu tak bisa dilakukan orang lain untuknya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari syair Sunita dalam Theragatha (12.2), kumpulan syair para biksu awal dalam tradisi Buddhis. Kisahnya hanya diketahui dari syair tersebut dan tradisi penafsirnya.