Cullapanthaka dan Sehelai Kain Putih
Lukisan gulungan arhat keenam belas, Chudapanthaka, nama lain Cullapanthaka dalam tradisi Asia Timur. Gambar: unknown artist · Public domain · sumber
Empat bulan penuh Cullapanthaka mencoba menghafal satu bait syair, dan selama empat bulan itu ia gagal. Baris yang pagi hari sudah masuk ke kepalanya, sore hari sudah menguap. Baris kedua mengusir baris pertama. Di antara para biksu di Rajagaha, tak ada yang selamban dia.
Kakaknya, Mahapanthaka, justru sebaliknya. Dialah yang mengajak adiknya masuk ke kehidupan biksu, dan dia pula yang kini kehilangan kesabaran. Ia tidak melihat harapan pada adiknya itu.
“Kau tidak mampu,” katanya. “Satu bait pun tak bisa kau hafal dalam empat bulan. Bagaimana mungkin kau mencapai tujuan yang lebih tinggi? Pergilah dari wihara ini.”
Waktu itu tabib termasyhur Jivaka mengundang Buddha dan lima ratus biksu untuk bersantap di rumahnya. Mahapanthaka, yang bertugas mengatur undangan, tidak mencantumkan nama adiknya. Cullapanthaka tak membenci kakaknya, tetapi hatinya hancur. Ia berniat meninggalkan kehidupan biksu dan kembali menjadi orang biasa.
Dini hari ia berjalan menuju gerbang wihara. Di serambi, Buddha sudah berada di sana seakan menunggunya. Beliau bertanya hendak ke mana. Cullapanthaka menceritakan semuanya sambil menangis.
Menurut riwayat, Buddha tidak mendebat kakaknya, dan tidak pula menyuruhnya menghafal lagi. Beliau membawanya masuk, mendudukkannya menghadap ke timur, dan memberinya sehelai kain putih yang bersih.
“Peganglah kain ini, usap perlahan dengan tanganmu, dan ucapkan: menghilangkan kotoran, menghilangkan kotoran.”
Hanya itu tugasnya. Dua kata yang bisa diingat bahkan oleh orang yang tak bisa mengingat apa pun.
Cullapanthaka mengusap kain itu sambil mengulang kata-kata tersebut. Seiring waktu, tangannya yang berkeringat membuat kain itu mulai kusam. Ia berhenti dan memandangnya. Kain yang tadi bersih kini tampak kotor. Tak ada yang berubah selain sentuhan tangan, dan tak ada yang tinggal tetap seperti semula. Ia mulai melihat betapa segala sesuatu berubah, dan dalam keheningan itu pikirannya terbuka. Yang kotor, ia mengerti, sebenarnya nafsu, kebencian, dan ketidaktahuan yang menempel pada batin.
Hari itu ia mencapai kesucian.
Di rumah Jivaka, ketika hidangan akan dimulai, Buddha berkata masih ada biksu di wihara. Mahapanthaka menjawab tak ada lagi biksu di sana. Seorang utusan dikirim, dan ia terkejut melihat hutan mangga di wihara penuh dengan seribu biksu, masing-masing dengan kesibukan berbeda. Ketika ia bertanya mana Cullapanthaka, seribu suara menjawab serentak, “Aku Cullapanthaka.”
Atas petunjuk Buddha, utusan itu memegang tangan biksu pertama yang menjawab. Seribu sosok itu pun lenyap, dan yang tersisa hanya satu orang. Ia ikut ke rumah Jivaka, dan sesudah santap, dialah yang diminta mengucapkan terima kasih. Biksu yang dulu tak bisa menghafal satu bait kini menguraikan ajaran dengan fasih.
Ketika para biksu membicarakan hal itu dengan takjub, Buddha menuturkan sebuah kisah lama tentang pemuda yang memulai usahanya dari seekor tikus mati, lalu mengingatkan bahwa orang yang tekun bisa bangkit dari awal yang sangat kecil, seperti nyala api mungil yang dihidupkan dengan embusan napas.
💖 Pesan Moral
- Cara belajar orang berbeda-beda. Yang gagal menghafal belum tentu gagal memahami; ia mungkin hanya butuh jalan lain.
- Guru yang baik mengenali muridnya. Sehelai kain lebih berguna baginya daripada seratus syair.
- Tugas sederhana yang dikerjakan sepenuh hati bisa membawa jauh. Dua kata yang diulang dengan perhatian lebih berharga daripada banyak kata yang diucapkan sambil lalu.
- Jangan cepat mencap orang. Kata “tidak mampu” dari orang terdekat bisa hampir mengakhiri perjalanan seseorang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Culla Panthaka (Si Pengembara Kecil) dalam bagian pembuka Cullaka-setthi Jataka (Jataka no. 4); kisahnya juga terdapat dalam tafsir Dhammapada. Salah satu versi, dan rincian mukjizatnya mengikuti riwayat tradisi.