Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Raja Sibi dan Seekor Merpati

3 menit baca

Relief Gandhara koleksi British Museum: daging raja ditimbang demi menyelamatkan seekor merpati. Gambar: Marie-Lan Nguyen · Public domain · sumber

Di negeri tempat Raja Sibi memerintah, orang biasa berkata bahwa siapa pun yang datang meminta perlindungan kepadanya tak pernah diusir. Kabar itu sampai ke telinga para dewa. Agni, dewa api, dan Indra, raja para dewa, ingin tahu seberapa jauh janji itu bisa bertahan. Mereka turun ke bumi: Agni menjadi seekor merpati, Indra menjadi seekor elang.

Pada suatu hari, ketika sang raja sedang duduk di balairung, seekor merpati terbang dengan sayap gemetar dan menjatuhkan diri ke pangkuannya. Napasnya tersengal. Tak lama seekor elang menyusul, hinggap di hadapan raja, dan berbicara seperti manusia.

“Tuanku, merpati itu mangsaku. Aku sudah mengejarnya sejak tadi dan aku sangat lapar. Serahkan dia kepadaku.”

Raja menutup burung kecil itu dengan telapak tangannya.

“Ia datang kepadaku karena ketakutan. Aku tidak akan menyerahkannya.”

“Tuanku memang melindungi merpati ini. Tetapi aku juga makhluk hidup. Kalau aku tidak makan, aku mati, dan anak-anakku ikut mati. Benarkah raja yang adil merampas makanan seekor burung yang lapar?”

Pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan mudah. Raja menawarkan ganti apa saja: daging hewan lain, sebanyak yang diminta. Elang menolak semuanya. Hewan lain yang disembelih untuknya sama saja dengan menukar satu nyawa dengan nyawa lain, dan elang hanya mau merpati itu, atau daging lain yang seberat merpati itu, yang diberikan dengan rela.

“Kalau begitu,” kata raja setelah terdiam beberapa saat, “ambillah dagingku sendiri.”

Para menteri berseru dan berusaha mencegah. Raja tetap menyuruh mereka membawa timbangan. Merpati diletakkan di satu sisi. Di sisi lain raja meletakkan sepotong daging yang ia sayat dari paha kanannya.

Timbangan tidak bergerak. Merpati itu lebih berat.

Ia menyayat lagi, dan lagi. Darah mengalir ke lantai balairung, dan setiap potongan yang ditambahkan seolah tidak berarti apa-apa. Merpati kecil itu terus lebih berat, seakan seluruh isi dunia bertumpu padanya. Akhirnya, dengan tubuh yang hampir tak sanggup berdiri, sang raja sendiri naik ke atas piring timbangan dan duduk di sana.

“Inilah seluruh diriku. Ambillah.”

Barulah timbangan itu seimbang. Balairung hening. Lalu elang dan merpati itu lenyap, dan di hadapan raja berdiri Indra dan Agni dalam wujud aslinya.

“Kami datang untuk mengujimu,” kata mereka. “Selama manusia masih bercerita, perbuatanmu akan diingat.”

Tubuh sang raja pulih seperti semula, bahkan lebih cemerlang dari sebelumnya. Sampai hari ini, kisahnya masih dituturkan orang di India, dan dipahat di batu dari Gandhara sampai Borobudur.

💖 Pesan Moral

  • Janji yang sebenarnya diuji ketika mahal. Melindungi yang lemah mudah diucapkan selama belum ada harganya.
  • Dua pihak bisa sama-sama punya hak. Elang juga butuh makan, dan raja tidak menutup telinga terhadap alasan itu.
  • Jangan meminta orang lain membayar kebaikan kita. Raja membayar komitmennya dengan miliknya sendiri, tanpa menyuruh orang lain berkorban.
  • Satu nyawa yang kecil tetap berat. Di timbangan itu, hidup seekor merpati setara dengan seorang raja.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi kisah raja dan merpati dalam Mahabharata (Vana Parva), yang juga hidup dalam tradisi Buddhis berbahasa Sanskerta. Nama raja dan rinciannya berbeda antarversi; Sivi Jataka no. 499 dalam kanon Pali menuturkan pengorbanan Raja Sivi yang lain, yaitu mendermakan matanya.