Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Pilandok dan Sultan

3 menit baca

Danau Lanao di Mindanao, kampung halaman orang Maranao. Gambar: PeterParker22 · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di sekitar Danau Lanao, Mindanao, orang Maranao punya banyak cerita tentang Pilandok, si kancil yang dalam banyak cerita tampil sebagai manusia kecil berakal panjang. Kali ini, seperti biasa, ia telah melewati batas. Lidahnya yang lancang membuat sang Sultan murka, dan Sultan menjatuhkan hukuman: Pilandok harus dibuang ke dalam danau.

Para pengawal melaksanakan titah itu, dan seluruh kampung menyaksikan si pengacau lenyap ke dalam air. Sultan pulang dengan tenang. Akhirnya, pikirnya, negeri ini akan damai.

Beberapa waktu berlalu. Suatu pagi, Sultan sedang duduk di balai ketika orang-orang di pasar mulai berseru. Seseorang berjalan melintasi alun-alun dengan pakaian sutra bersulam, keris berhulu emas di pinggang, dan senyum yang sangat dikenal semua orang.

Pilandok.

Sultan memucat dan menyuruh membawanya menghadap. Pilandok datang, memberi hormat dengan tertib, dan tidak kelihatan seperti orang yang baru dihukum mati.

“Bagaimana mungkin? Kau seharusnya sudah mati!”

“Oh, Tuanku, hamba harus berterima kasih,” kata Pilandok dengan wajah berseri-seri. “Hukuman itu adalah hal terbaik dalam hidup hamba. Di dasar danau ada sebuah kerajaan. Rajanya menerima hamba dengan ramah. Semua rumahnya berkilau, peti-petinya penuh emas dan kuningan, dan rakyatnya tidak pernah kekurangan. Sayang sekali hamba hanya boleh membawa sedikit.”

Ia mengangkat lengan bajunya sedikit, memperlihatkan gelang yang mengilap. Sultan menatapnya lama. Para pembesar mulai berbisik.

“Sedikit?”

“Sedikit sekali, Tuanku. Hamba hanyalah orang kecil, jadi yang diberikan kepada hamba pun hanya hadiah orang kecil. Kalau seorang sultan yang datang, hamba tak bisa membayangkan. Raja di sana sering menanyakan apakah Sultan negeri atas berkenan berkunjung. Tetapi tentu saja Tuanku punya banyak urusan…”

Sultan berdehem. Ia seorang penguasa kaya. Namun orang yang sudah punya banyak emas, menurut pengalaman para pencerita, biasanya merasa masih punya tempat untuk sedikit lagi.

“Apakah… tempat itu jauh?”

“Dekat sekali, Tuanku. Tidak perlu bekal. Cukup pergi ke tepi yang dalam dan langsung terjun, seperti yang hamba lakukan. Sebaiknya tak usah membawa pengawal, supaya mereka tidak berebut harta.”

Keesokan paginya Sultan berdiri di tepi Danau Lanao dengan pakaian kebesarannya. Rakyat berkumpul. Ia memerintahkan agar menunggu kepulangannya, lalu ia melangkah dan terjun.

Mereka menunggu sampai siang. Mereka menunggu sampai sore. Permukaan danau tetap tenang dan biru.

Malam harinya para pembesar berkumpul dengan bingung. Negeri itu tanpa sultan, dan tak ada yang tahu harus berbuat apa. Pilandok berdiri, merapikan baju sutranya, dan batuk kecil.

“Sultan pasti sangat betah di sana,” katanya. “Selagi beliau sibuk, mungkin hamba bisa membantu menjaga negeri ini sebentar.”

💖 Pesan Moral

  • Keserakahan membuat orang percaya pada hal yang tak masuk akal. Sultan yang tak mempan oleh ancaman runtuh oleh seutas gelang.
  • Penguasa yang tak pernah puas adalah sasaran paling mudah. Orang kecil yang cerdik tahu bagian mana yang harus disentuh.
  • Saran praktis: kalau ada yang berkata tak perlu bawa pengawal, bawalah pengawal.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Maranao, Filipina, tentang Pilandok dan kerajaan di bawah air. Rincian kisah ini berbeda-beda antarpenutur, dan cara Pilandok dibuang disusun bebas.