Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Zhuge Liang Meminjam Panah dengan Perahu Jerami

3 menit baca

Zhuge Liang, penasihat Liu Bei, dalam lukisan potret zaman Ming. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber

Pasukan Cao Cao yang sangat besar berkemah di tepi utara Sungai Yangtze. Di seberang, sekutu Liu Bei dan Sun Quan bersiap menghadapinya, dan persediaan panah mereka jauh dari cukup. Panglima Wu, Zhou Yu, memanggil penasihat Liu Bei yang sedang berada di kemahnya, Zhuge Liang.

Zhou Yu sudah lama merasa terganggu oleh kecerdasan tamunya itu. Ia meminta Zhuge Liang menyediakan seratus ribu batang panah dalam sepuluh hari. Itu tugas yang mustahil, dan jika gagal, ia punya alasan sah untuk menghukumnya.

“Sepuluh hari terlalu lama,” jawab Zhuge Liang tenang. “Beri saya tiga hari.”

Ia bahkan menandatangani jaminan: gagal berarti hukuman mati. Zhou Yu hampir tak percaya pada keberuntungannya, dan Lu Su, perwira Wu yang jujur dan bersahabat dengan Zhuge Liang, menjadi cemas sekali.

Hari pertama lewat tanpa kesibukan apa pun. Hari kedua juga. Tak ada bengkel yang dibuka, tak ada bambu yang dipotong. Zhuge Liang hanya meminjam dua puluh perahu dari Lu Su, dengan pesan agar tidak dilaporkan kepada Zhou Yu. Masing-masing diberi tiga puluh prajurit, dilapisi kain biru, dan kedua sisinya dijejali ikatan jerami yang banyak sekali.

Tengah malam hari ketiga, ia mengundang Lu Su naik ke perahunya dengan alasan hendak mengambil panah. Kabut tebal turun menutupi sungai, begitu pekat sampai orang tak bisa melihat ujung perahunya sendiri. Rupanya kabut inilah yang ditunggunya. Ia telah membaca langit.

Perahu-perahu itu diikat berderet dan didayung lurus ke arah perkemahan Cao Cao. Menjelang fajar, ketika sudah dekat, Zhuge Liang memerintahkan semua prajurit menabuh genderang dan berteriak sekuat tenaga. Lu Su pucat. Zhuge Liang duduk minum arak dengan santai.

“Dalam kabut setebal ini, Cao Cao tak akan berani keluar. Minumlah. Kita pulang kalau kabut sudah menipis.”

Di tepi utara, Cao Cao mendengar genderang tetapi tak bisa melihat apa-apa. Khawatir terjebak, ia melarang pasukannya maju dan memerintahkan semua pemanah menembak ke arah suara. Ribuan pemanah dikerahkan, dan panah menghujan seperti badai. Semuanya menancap pada jerami.

Saat satu sisi perahu sudah berat, Zhuge Liang menyuruh perahu diputar agar sisi lainnya menghadap ke sana. Ketika matahari mulai mengangkat kabut, ia memerintahkan mundur, dan para prajurit berseru mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Cao atas panahnya.

Dua puluh perahu itu pulang membawa lebih dari seratus ribu batang panah. Zhou Yu mendengar laporan itu dan menghela napas panjang, mengakui bahwa kecerdasan orang ini tak bisa ia tandingi.

💖 Pesan Moral

  • Yang tampak santai mungkin sudah menghitung semuanya. Zhuge Liang tidak berjudi. Ia tahu kabut akan datang dan tahu watak Cao Cao yang berhati-hati.
  • Kenali lawanmu sebaik kamu mengenali dirimu. Rencana ini hanya berhasil karena Cao Cao bersifat curiga.
  • Sumber daya bisa datang dari tempat tak terduga. Saat tak mampu membuat, carilah cara agar orang lain menyediakannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari bab 46 novel klasik Roman Tiga Negara karya Luo Guanzhong (Tiongkok, abad ke-14). Episode ini adalah rekaan sastra yang mungkin terilhami peristiwa lain; catatan sejarah tidak menisbahkannya kepada Zhuge Liang.