Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Roro Jonggrang dan Seribu Candi

3 menit baca

Relief di dinding Candi Prambanan, kompleks yang dalam legenda dikaitkan dengan seribu candi Bandung Bondowoso. Gambar: CEphoto, Uwe Aranas · CC BY-SA 3.0 · sumber

Di ruang utara candi utama Prambanan berdiri patung Dewi Durga dari batu hitam. Para pemandu akan menjelaskan siapa dewi itu dengan tepat, lalu biasanya mereka tersenyum dan menambahkan bahwa orang Jawa punya nama lain untuknya: Roro Jonggrang, gadis yang ramping.

Dahulu, kata cerita itu, ada dua kerajaan bertetangga di dataran itu. Prambanan dipimpin oleh Prabu Baka, raja raksasa yang kejam, tetapi berputri sangat cantik. Pengging dipimpin oleh raja yang punya putra sakti, Bandung Bondowoso. Keduanya berperang. Bandung Bondowoso maju ke medan laga dan mengalahkan Prabu Baka. Ia pun menduduki istana Prambanan.

Di istana itu ia melihat Roro Jonggrang, yang sedang berkabung atas ayahnya. Bandung Bondowoso langsung ingin menikahinya.

Roro Jonggrang berada dalam posisi yang sulit. Orang di hadapannya adalah pembunuh ayahnya, tetapi juga penguasa baru yang tak bisa ditolak begitu saja. Ia menimbang-nimbang, lalu menjawab dengan tenang.

“Hamba bersedia, asalkan Tuan membangun seribu candi dalam satu malam, sebelum ayam berkokok.”

Ia yakin syarat itu mustahil. Namun Bandung Bondowoso menyanggupinya tanpa ragu.

Malam itu ia duduk bersemadi, dan pasukan makhluk halus mematuhi panggilannya. Dari segala arah mereka datang, mengangkat batu, memahat, dan menyusun. Candi demi candi menjulang dengan kecepatan yang mengerikan. Tengah malam, ratusan candi telah berdiri. Menjelang fajar, jumlahnya hampir mencapai seribu.

Roro Jonggrang menerima laporan itu dengan wajah pucat. Ia membangunkan para gadis di istana dan desa sekitar. “Tumbuklah lesung, cepat. Dan bakarlah jerami di timur.”

Suara alu menumbuk lesung segera menggema, seperti kesibukan orang di pagi hari. Cahaya merah dari jerami membakar langit timur. Ayam-ayam jantan terbangun dan berkokok. Makhluk-makhluk halus itu panik, mengira matahari hampir terbit, dan mereka meninggalkan pekerjaan lalu menghilang ke dalam tanah.

Bandung Bondowoso menghitung. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Kurang satu.

Ia menyadari apa yang telah terjadi, dan ia murka bukan main. Di hadapan Roro Jonggrang, ia mengucapkan kutukan: “Kalau begitu, engkaulah yang akan menjadi candi yang keseribu.”

Tubuh gadis itu perlahan membeku, menjadi patung batu yang kini berdiri di dalam candi.

Para sejarawan mencatat bahwa Prambanan dibangun pada abad kesembilan sebagai candi Hindu untuk Trimurti. Namun lewat legenda inilah kebanyakan orang pertama kali mengenalnya.

💖 Pesan Moral

  • Kekuatan tidak bisa memaksa hati. Bandung Bondowoso bisa menaklukkan kerajaan, tetapi cintanya tak bisa ia menangkan dengan cara itu.
  • Kecerdasan adalah senjata bagi yang lemah, walaupun setiap tipuan punya harga yang harus dibayar.
  • Jangan membuat janji yang tidak ingin kau tepati. Syarat yang diajukan untuk menolak diam-diam tetap merupakan janji.
  • Amarah yang dilampiaskan tak mengembalikan apa-apa. Kutukan itu tidak memberi Bandung Bondowoso apa yang ia inginkan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Prambanan, Jawa Tengah dan Yogyakarta; salah satu versi.