Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Towjatuwa dan Buaya Sakti

3 menit baca

Buaya irian; di tepi Sungai Tami, buaya dihormati oleh keturunan Towjatuwa menurut cerita ini. Gambar: Drcbrothephotographer · CC0 · sumber

Istri Towjatuwa sudah hampir waktunya melahirkan, dan persalinan itu tidak berjalan lancar. Di kampung mereka di tepi Sungai Tami, dekat Jayapura, kabar seperti itu membuat semua orang cemas. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari cara apa saja yang mungkin menolong.

Orang tua-tua memberi saran kepada Towjatuwa: carilah batu hitam yang tajam di tepi sungai, sebab batu itu dibutuhkan untuk membantu persalinan. Dengan hati gelisah ia berangkat menyusuri sungai, mengarungi air dangkal, dan membalik batu demi batu.

Ketika asyik mencari, ia mendengar suara rintihan yang berat. Ia mendekat, dan jantungnya serasa berhenti. Di hadapannya tergeletak seekor buaya besar. Makhluk itu tak bisa bergerak karena tubuhnya terjepit di bawah sebuah batu besar.

Towjatuwa hampir berlari. Buaya adalah makhluk yang paling ditakuti di sungai itu. Namun hewan itu tidak menyerangnya. Matanya menatap Towjatuwa, dan dari mulutnya terdengar suara.

“Jangan takut. Namaku Watuwe. Tolonglah aku.”

Towjatuwa berdiri beberapa lama, antara ngeri dan iba. Ia teringat istrinya yang sedang berjuang di rumah. Ia juga sedang butuh pertolongan, dan ia tahu rasanya. Maka ia mendorong batu itu dengan seluruh tenaganya. Batu itu bergeser sedikit demi sedikit hingga buaya itu bisa menarik tubuhnya keluar.

Watuwe bergerak perlahan dan menatap penolongnya. “Aku tahu apa yang sedang kau cari,” katanya. “Pulanglah. Malam ini aku akan datang ke rumahmu.”

Malam itu, sesuatu yang berat merayap naik ke rumah Towjatuwa. Buaya sakti itu benar-benar datang. Dengan kesaktiannya, ia menolong istri Towjatuwa, dan bayi itu lahir dengan selamat. Tangis bayi laki-laki itu pecah dan seisi rumah tak bisa menahan air mata.

Watuwe memandang bayi itu dan berkata, “Namailah ia Narrowa. Kelak ia akan menjadi pemburu yang ulung.”

Sebelum kembali ke sungai, ia mengajukan satu pesan yang harus dijaga turun-temurun.

“Kau dan seluruh keturunanmu tidak boleh memakan daging buaya. Siapa pun yang melanggarnya akan ditimpa kemalangan.”

Towjatuwa berjanji. Ia menepati janji itu sampai akhir hayat, dan anak cucunya pun diajari hal yang sama. Sejak itu keluarga mereka memandang buaya di Sungai Tami sebagai sahabat lama, dan buaya menjadi hewan yang dihormati serta dijaga di sana.

Tradisi seperti ini dikenal di banyak tempat di Papua. Satu keluarga merasa terikat dengan seekor hewan, dan ikatan itu membuat mereka menjaganya.

💖 Pesan Moral

  • Menolong saat kita sendiri sedang susah adalah kebaikan yang paling langka. Towjatuwa memilih berhenti walaupun sedang terburu-buru.
  • Pertolongan sering datang dari arah yang paling tidak disangka. Makhluk yang paling ditakuti justru menyelamatkan keluarganya.
  • Balas budi bisa diwariskan. Janji satu orang bisa menjadi cara hidup banyak generasi.
  • Pantangan bisa menjadi cara menjaga alam. Larangan adat sering melindungi satwa yang hidup berdampingan dengan manusia.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Papua tentang Towjatuwa dan buaya Watuwe di Sungai Tami; salah satu versi. Benda yang dicari Towjatuwa berbeda-beda dalam berbagai penuturan.