Radin Jambat
Kain tampan dari Lampung bermotif perahu, seperti perahu yang membawa Radin Jambat berkelana. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Raja Negeri Pasar Turi, Sang Raja Tanjung Sembilan, memiliki segalanya kecuali seorang anak. Istananya sunyi dan takhtanya tidak berpewaris. Setelah bertahun-tahun menunggu, ia berangkat ke Bukit Pesagi di Lampung untuk bertapa.
Di sana ia didatangi seekor naga bermahkota tiga. Naga itu berubah menjadi sebuah buah merah, dan buah itu dibawa pulang untuk dimakan permaisuri. Tidak lama kemudian, sang permaisuri mengandung.
Bayi yang lahir bukan bayi biasa. Bersama dengannya ditemukan sebentuk cincin dan sebutir telur emas. Ia diberi nama Radin Jambat, dan seisi negeri menyambutnya sebagai anak yang dinanti-nanti.
Radin Jambat tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan cakap. Ketika tiba saatnya berumah tangga, ia tidak mau menunggu jodoh datang ke istana. Ia meminta izin orang tuanya, lalu naik perahu ditemani dua orang punakawan yang setia. Mereka menyusuri pesisir, singgah dari satu negeri ke negeri lain.
Perjalanan itu mengajarinya banyak hal, dan tidak semua pelajarannya menyenangkan. Di suatu tempat ia berhadapan dengan jin berwujud ular. Ia sebenarnya bisa membunuhnya, tetapi ia memilih mengampuni makhluk yang sudah tidak berdaya itu. Di tempat lain ia digoda oleh jin yang menjelma gadis jelita. Kali itu ia tidak mengandalkan keris. Ia berdoa, dan tipu daya itu sirna.
“Tuan, sampai kapan kita berlayar?” tanya seorang punakawan suatu sore.
“Sampai kita tiba di tempat yang tepat,” jawab Radin Jambat. “Aku belum tahu di mana. Tapi aku akan tahu saat sampai di sana.”
Akhirnya mereka mendengar tentang Putri Betik Hati, yang tinggal di Tanggamus. Kecantikannya sudah tersohor, dan banyak lelaki telah bertunangan dengannya atau berharap demikian. Radin Jambat tidak mundur mendengar hal itu. Ia naik ke sana dan menghadap dengan sopan.
Di Tanggamus ia bertemu saingan beratnya, Sindang Belawan Bumi, yang juga mengincar sang putri dan tidak senang melihat pendatang baru. Tidak ada jalan lain kecuali membuktikan diri di depan orang banyak. Keduanya sepakat bertanding.
Pertandingan pertama adalah sepak besi, menendang bola besi yang berat. Orang-orang berkerumun. Sindang Belawan Bumi unjuk kekuatan, dan sorak-sorai membahana. Lalu giliran Radin Jambat, dan ia menang.
Saingannya belum mau mengaku kalah, sehingga diadakan sabung ayam. Ayam Radin Jambat pun menjadi pemenang. Kali ini tidak ada lagi yang bisa dibantah. Sindang Belawan Bumi pergi meninggalkan Tanggamus, dan Radin Jambat dinikahkan dengan Putri Betik Hati.
Pemuda yang lahir dari buah merah itu akhirnya pulang ke Pasar Turi membawa istri. Perjalanannya panjang, tetapi orang Lampung yang mendengar warahan ini biasanya tidak hanya mengingat kemenangannya. Mereka juga mengingat ular yang diampuni dan doa di tengah godaan, yang terjadi jauh sebelum ada yang menonton.
💖 Pesan Moral
- Jodoh perlu dicari dengan usaha. Radin Jambat meninggalkan istana yang nyaman untuk menemukannya.
- Kekuatan diuji saat bisa mengampuni. Ia menahan tangan terhadap lawan yang sudah kalah.
- Doa menolong saat kekuatan tidak berguna. Godaan yang halus tidak bisa dilawan dengan keris.
- Bersaing dengan cara terbuka. Perkara sang putri diselesaikan lewat pertandingan di depan orang banyak, tanpa pertumpahan darah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi warahan (sastra tutur) Radin Jambat dari Lampung. Nama dan urutan peristiwanya berbeda antarpenutur.