Si Pahit Lidah
Bukit Siguntang di Palembang, nama yang dalam legenda menjadi tempat Serunting bertapa. Gambar: The Bangsawan · CC BY-SA 4.0 · sumber
Serunting adalah seorang pangeran di Negeri Sumidang, sakti dan keras hati. Ladangnya bersebelahan dengan ladang Aria Tebing, adik istrinya sendiri. Di perbatasan kedua ladang itu tumbuh cendawan, dan di situlah masalah bermula.
Cendawan yang menghadap ladang Aria Tebing berubah menjadi logam mulia. Yang menghadap ladang Serunting hanya tumbuh seperti cendawan biasa. Hari demi hari ia melihat iparnya menjadi kaya dari benda yang tumbuh hanya beberapa langkah dari tanahnya. Rasa iri mulai menggerogoti hatinya.
Akhirnya ia menantang Aria Tebing berkelahi. Dengan kesaktiannya, ia menang mudah, dan seluruh ladang jatuh ke tangannya.
Aria Tebing tidak bisa menerima hal itu. Ia mendatangi kakaknya, istri Serunting, dan mendesak agar diberi tahu rahasia kesaktian suaminya. Perempuan itu terjepit di antara adik dan suami. Setelah lama dibujuk, ia menyerah.
“Kelemahannya ada pada ilalang yang selalu bergetar, meski tidak ada angin yang bertiup.”
Aria Tebing mengembara mencari ilalang itu sampai menemukannya, lalu pulang dan menantang Serunting sekali lagi. Dalam pertarungan, ia menancapkan ilalang itu ke tanah. Seketika kesaktian Serunting lenyap, dan untuk pertama kalinya ia tumbang di hadapan iparnya.
Terbaring kalah di tanah, Serunting mengerti satu hal: hanya istrinya yang tahu rahasia itu. Luka di tubuhnya tidak sepedih yang di dadanya.
Ia pergi tanpa pamit dan berkelana sampai tiba di Gunung Siguntang. Di sana ia bertapa lama sekali, tidak bergerak, sampai daun-daun gugur menutupi tubuhnya. Dalam tapanya, ia bertemu Hyang Mahameru, yang menganugerahinya kesaktian baru yang mengerikan: apa pun yang diucapkannya akan terjadi. Bila ia mengutuk, kutukan itu berlaku.
Serunting bangkit dengan satu tujuan, yaitu pulang dan membalas dendam. Di sepanjang jalan ia mencoba kekuatannya. Orang-orang yang ditemuinya ia kutuk menjadi batu, dan mereka membatu di tempat. Perjalanannya meninggalkan deretan patung bisu. Orang-orang mulai ketakutan mendengar namanya. Karena lidahnya membawa bencana, mereka memanggilnya Si Pahit Lidah.
Tetapi semakin jauh ia berjalan, semakin aneh rasanya. Ia telah memiliki kekuatan yang dulu ia inginkan. Tidak ada yang berani melawannya. Tidak ada pula yang berani mendekatinya. Tiap kali ia membuka mulut, ada yang berakhir. Orang-orang yang ia ubah menjadi batu tidak pernah berbuat salah apa pun kepadanya.
Pada suatu hari, di ujung perjalanan, ia berhenti.
Ia menyadari kesalahannya. Niat membalas dendam ia kubur di sana. Ia berhenti mengutuk orang sembarangan, dan untuk pertama kalinya menggunakan lidahnya dengan cara yang berbeda: ia mendoakan istrinya, yang dulu ia anggap pengkhianat.
Ia juga berusaha membayar kerusakan yang telah dilakukannya. Di tempat bernama Bukit Serut, yang gundul dan gersang, ia mengucapkan kata-kata, dan bukit itu berubah menjadi hutan yang lebat. Kata-kata yang tadinya mematikan kini menumbuhkan sesuatu.
Di Sumatra Selatan dan sekitarnya, banyak batu besar yang sampai sekarang dikaitkan orang dengan perjalanannya.
💖 Pesan Moral
- Iri menghancurkan yang sudah dimiliki. Serunting punya ladang, istri, dan kesaktian, dan ia kehilangan semuanya karena cendawan orang lain.
- Kata-kata punya kekuatan. Ucapan bisa membatukan hati orang, dan bisa pula menumbuhkan sesuatu.
- Belum terlambat untuk berhenti. Dendam yang sudah di depan pintu pun masih bisa dibatalkan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Sumatra Selatan tentang Serunting Sakti. Dalam versi lain, Si Pahit Lidah menemui ajal saat beradu kesaktian dengan Si Mata Empat.