Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Si Umbut Muda

3 menit baca

Saluang, suling bambu Minangkabau, mengingatkan pada suling talang perindu milik Umbut Muda. Gambar: MartijnL · CC BY-SA 3.0 · sumber

Tiga tahun lamanya Si Umbut Muda belajar mengaji jauh dari Kampung Teberau. Ketika ibunya bertanya hendak menjadi apa ia, penghulu atau dubalang, ia menjawab bahwa kedua jabatan itu berat dan belum ia sanggupi. Ia hanya ingin menuntut ilmu. Sang ibu membekalinya beras sebuntil dan emas setahil, lalu melepasnya dengan hati jernih.

Pulang dari perantauan, ia membawa ilmu dan suara yang merdu. Konon bila ia melagukan bacaannya, orang yang lewat berhenti melangkah dan burung-burung hinggap mendengarkan. Setibanya di rumah, ia berpakaian rapi dan memilih pakaian terbaiknya, lalu mengutarakan isi hatinya: ia ingin melamar Puteri Gelang Banyak, gadis tercantik di negeri itu.

Ibunya berangkat membawa sirih. Di rumah sang gadis ia berbicara dengan santun. Jawaban yang diterimanya sungguh menyayat.

“Tuan Umbut itu tidak menjadi angan-angan saya di siang hari, tidak menjadi mimpi saya di malam hari,” kata Gelang Banyak. Ia menambahkan bahwa ketampanan Umbut hanya karena kain pinjaman, dan kekayaannya hanya pemberian ayahnya. “Jangan diulang lagi.”

Sang ibu pulang dengan langkah terhentak-hentak. Ia berhenti di tengah jalan, duduk termenung, dan bingung bagaimana menyampaikannya. Ketika akhirnya anaknya mendengar semua itu, hati Umbut tersayat. Malu dan marah bercampur menjadi satu.

Ia lalu meminta sesuatu yang berbahaya: seruas talang perindu, bambu kecil yang tumbuh di lubuk yang dijaga makhluk ganas. Ibunya pergi juga. “Daripada anakku mati, biarlah aku yang mati,” katanya dalam hati. Ia berjuang di dalam air sampai bajunya compang-camping, dan pulang membawa seruas bambu itu.

Dari bambu tersebut, Umbut membuat suling. Bunyinya kadang terdengar di awan, kadang dari dalam tanah. Di rumahnya, Gelang Banyak yang sedang menenun mendadak gelisah. Peluhnya mengalir dan duduknya tidak tenang. Ia menggulung tenunannya, mengambil labu air, lalu berjalan mengikuti suara itu tanpa bisa menahan diri.

Sejak hari itu ia jatuh sakit. Nasi terasa sekam, air terasa sembilu. Dukun demi dukun gagal mengobatinya. Sebelum pergi, Umbut meninggalkan pesan kepada Rambun Emas: bila gadis itu meninggal, panggillah aku. Dan benarlah, Gelang Banyak akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Orang tuanya berkabung dan dengan rendah hati memohon kepada Umbut Muda. Ia datang ke rumah duka, meminta limau tiga serangkai dan air, lalu berdoa di sisi jenazah. Dengan sebatang lidi ia menyentuh ibu jari kaki sang gadis. Tubuh itu bergerak. Orang banyak terpana; hal itu tidak masuk akal. Gelang Banyak membuka mata.

Ratap berganti pesta. Mereka dinikahkan, dan kali ini sang gadis menerima Umbut dengan sepenuh hati.

Akhir bahagia itu tidak panjang. Beberapa bulan setelah pindah ke Kampung Teberau, Umbut jatuh sakit dan tak kunjung sembuh. Gelang Banyak yang menjaganya menyusul sakit pula. Keduanya meminta maaf kepada orang tua mereka dan berpesan agar dikuburkan di dua bukit yang saling berhadapan.

Permintaan itu dipenuhi. Orang kampung mengusung mereka ke sana dengan tangis, ke dua bukit yang sampai sekarang, kata tukang kaba, masih saling memandang.

💖 Pesan Moral

  • Tolaklah dengan santun. Menolak lamaran adalah hak, tetapi merendahkan orang yang datang baik-baik bisa melukai lama.
  • Cinta yang dipaksa membawa bencana. Kekuatan suling itu hampir merenggut nyawa orang yang katanya dicintai.
  • Jangan biarkan orang tua menanggung harga diri kita. Ibu Umbut yang terjun ke lubuk maut demi sakit hati anaknya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Kaba Si Umbut Muda, sastra lisan Minangkabau, merujuk versi yang dibukukan Tulis Sutan Sati.