Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Anansi dan Guci Kebijaksanaan

3 menit baca

Ilustrasi Pamela Colman Smith (1899) untuk kumpulan cerita Anansi. Gambar: Pamela Colman Smith · Public domain · sumber

Di Afrika Barat, orang-orang Ashanti punya banyak cerita tentang Anansi, laba-laba yang cerdik, licik, dan sering kali terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri. Salah satu kisahnya menjelaskan mengapa kebijaksanaan kini tersebar di seluruh dunia.

Pada zaman dahulu, konon Anansi berhasil mengumpulkan seluruh kebijaksanaan di dunia. Ia memasukkan semuanya ke dalam sebuah guci tanah liat yang besar. Setiap pengetahuan, setiap nasihat, setiap kecerdikan, semua ia simpan di sana.

Anansi memandangi gucinya dengan bangga. “Sekarang akulah satu-satunya makhluk yang bijak,” pikirnya. “Semua orang harus datang kepadaku jika ingin tahu sesuatu. Aku tidak akan membaginya dengan siapa pun.”

Tetapi Anansi khawatir. Bagaimana jika ada yang mencuri gucinya? Ia memutuskan untuk menyembunyikannya di puncak sebuah pohon yang sangat tinggi, tempat tak seorang pun bisa menjangkaunya.

Maka ia mengikatkan guci itu di depan perutnya dengan seutas tali, lalu mulai memanjat. Namun, guci yang besar itu terus menghalangi. Setiap kali ia mencoba memanjat, guci itu terjepit di antara tubuhnya dan batang pohon. Ia tergelincir, mencoba lagi, tergelincir lagi. Ia berkeringat dan menggerutu, tetapi tetap tidak bisa naik.

Dari bawah pohon, anak Anansi yang masih kecil, Ntikuma, memperhatikan ayahnya sejak tadi. Akhirnya ia berseru, “Ayah, kenapa tidak mengikat guci itu di punggung saja? Dengan begitu, Ayah bisa memeluk batang pohon dan memanjat dengan mudah.”

Anansi terdiam. Ia, yang mengira dirinya memiliki seluruh kebijaksanaan dunia, ternyata baru saja diajari oleh seorang anak kecil. Rasa malu dan kesal bercampur dalam hatinya.

Dalam kemarahannya, Anansi melemparkan guci itu dari dahan pohon. Guci itu jatuh, pecah berkeping-keping, dan kebijaksanaan yang ada di dalamnya berhamburan ke segala arah. Angin menerbangkannya. Hujan membawanya ke sungai, dan sungai mengalirkannya ke laut. Sejak saat itu, kebijaksanaan tersebar ke seluruh dunia.

Itulah sebabnya, kata orang Ashanti, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki seluruh kebijaksanaan. Setiap orang memiliki sedikit, dan kita bisa belajar dari siapa saja, bahkan dari anak kecil.

Kisah ini adalah teguran yang lembut bagi siapa saja yang merasa paling tahu. Pengetahuan yang disimpan untuk diri sendiri tidak akan bertambah. Justru ketika kita mau berbagi dan rendah hati, kita bisa terus belajar dari orang lain.

Dan bagi para orang tua serta guru, kisah ini juga mengingatkan bahwa anak-anak bukan hanya tempat kita menuangkan pengetahuan. Kadang, dengan pikiran mereka yang sederhana dan jernih, merekalah yang menunjukkan jalan keluar yang tidak kita lihat.

💖 Pesan Moral

  • Tidak ada seorang pun yang memiliki seluruh kebijaksanaan. Kita semua saling melengkapi.
  • Belajarlah dari siapa saja, termasuk dari orang yang lebih muda.
  • Ilmu yang dibagikan akan bermanfaat; ilmu yang dikurung untuk kesombongan akan sia-sia.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Ashanti (Ghana, Afrika Barat) tentang Kwaku Anansi, si laba-laba.