Semak Berduri di Tengah Jalan
Semak berduri yang dibiarkan tumbuh akan semakin sulit dicabut. Gambar: John Haynes · CC BY-SA 2.0 · sumber
Di pinggir sebuah kota, ada seorang lelaki yang suka bersikap seenaknya. Suatu hari, tanpa alasan yang jelas, ia menanam sebatang semak berduri tepat di tengah jalan yang setiap hari dilalui banyak orang.
Mula-mula semak itu masih kecil. Orang-orang yang lewat hanya perlu sedikit menghindar. Tetapi hari demi hari, semak itu tumbuh. Durinya mulai menggores kaki para pejalan kaki, merobek pakaian mereka, dan melukai telapak kaki anak-anak yang berjalan tanpa alas kaki.
Orang-orang mulai mengeluh. Mereka mendatangi lelaki itu dan memintanya mencabut semak berduri tersebut.
“Baiklah, baiklah,” katanya. “Besok akan kucabut.”
Besok tiba, tetapi ia tidak mencabutnya. Ketika ditanya lagi, ia menjawab, “Besok saja. Hari ini aku sibuk.” Begitu terus, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, bahkan tahun ke tahun. Selalu ada alasan untuk menunda.
Sementara itu, semak berduri itu terus tumbuh besar. Akarnya semakin dalam menembus tanah, batangnya semakin kokoh, dan durinya semakin tajam. Akhirnya kabar itu sampai kepada penguasa kota. Ia memanggil lelaki itu dan memerintahkannya dengan tegas, “Cabut semak itu sekarang juga!”
Lelaki itu pun pergi ke jalan untuk mencabutnya. Namun, apa yang dulu bisa ia cabut dengan satu tangan, kini tidak bisa lagi ia goyangkan. Semak itu sudah menjadi pohon berduri yang besar. Sementara itu, ia sendiri sudah menua. Tangannya lemah, tenaganya berkurang, dan punggungnya mudah sakit.
Rumi menceritakan kisah ini dalam Masnavi sebagai perumpamaan tentang kebiasaan buruk. Setiap kebiasaan buruk yang kita biarkan adalah semak berduri. Durinya melukai orang-orang di sekitar kita, dan kadang melukai diri kita sendiri. Setiap kali kita menunda untuk memperbaikinya, akarnya semakin dalam, sementara tenaga kita untuk mencabutnya semakin melemah.
Dalam syairnya, Rumi memberi nasihat yang mendesak: ambillah kapakmu sekarang dan tebaslah semak itu, selagi kau masih muda dan kuat. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat.
Kebiasaan suka marah, malas, berbohong kecil, atau mengabaikan orang-orang yang kita cintai, semuanya terasa sepele di awal. Tetapi waktu tidak memihak orang yang menunda. Hari terbaik untuk berubah adalah hari ini.
Kabar baiknya, selama kita masih bernapas, kapak itu masih ada di tangan kita. Satu tebasan kecil hari ini lebih berharga daripada seribu janji untuk besok.
Apa “semak berduri” yang sudah terlalu lama kita biarkan tumbuh?
💖 Pesan Moral
- Jangan menunda memperbaiki kebiasaan buruk. Semakin lama, akarnya semakin dalam.
- Kesalahan kecil yang dibiarkan bisa melukai banyak orang, termasuk diri kita sendiri.
- Waktu terbaik untuk berubah adalah sekarang, selagi kita masih punya kekuatan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi (abad ke-13), Buku II.