Burung Pipit yang Lidahnya Terpotong
Burung pipit kecil, dan dua keranjang yang menguji hati manusia. Gambar: Kawanabe Kyōsai · Public domain · sumber
Dahulu kala di Jepang hiduplah seorang kakek yang baik hati bersama istrinya yang pemarah dan serakah. Sang kakek memelihara seekor burung pipit kecil yang sangat ia sayangi. Setiap hari ia memberinya makan, mengajaknya bicara, dan membelai bulunya dengan lembut.
Suatu hari, ketika kakek sedang pergi ke gunung, sang nenek membuat kanji, pasta dari nasi untuk menganji pakaian. Burung pipit yang lapar mematuk sedikit kanji itu. Ketika nenek melihatnya, ia murka. Dengan gunting ia memotong lidah burung kecil itu, lalu mengusirnya pergi.
Sang kakek pulang dan mencari burung kesayangannya. Ketika tahu apa yang terjadi, hatinya hancur. Keesokan paginya ia berangkat ke hutan, memanggil-manggil sang pipit di antara pepohonan bambu.
Akhirnya ia menemukan rumah para burung pipit. Burung kecilnya menyambut dengan gembira. Keluarga pipit menjamu kakek dengan makanan lezat, menari dan bernyanyi untuknya sepanjang hari.
Ketika kakek hendak pulang, mereka menyodorkan dua buah keranjang tsuzura sebagai hadiah. Satu besar dan satu kecil. “Pilihlah salah satu,” kata mereka.
“Aku sudah tua, tenagaku tidak banyak,” kata kakek sambil tersenyum. “Aku ambil yang kecil saja.”
Setibanya di rumah, ia membuka keranjang itu. Isinya emas, perak, kain sutra, dan permata yang sangat banyak.
Nenek yang serakah langsung bertanya, “Kenapa kau tidak mengambil yang besar? Isinya pasti jauh lebih banyak!” Tanpa menunggu jawaban, ia bergegas sendiri ke rumah para pipit.
Para pipit menerimanya dengan sopan walau tanpa banyak keramahan. Nenek tidak mau menunggu jamuan. Ia langsung meminta hadiah, dan tentu saja ia memilih keranjang yang besar. Para pipit memperingatkan agar ia tidak membukanya sebelum sampai di rumah.
Namun keranjang itu sangat berat, dan rasa penasaran nenek tidak tertahankan. Di tengah perjalanan ia membukanya. Dari dalam keranjang keluar ular, kelabang, dan makhluk-makhluk menakutkan. Nenek menjerit dan lari terbirit-birit pulang tanpa membawa apa-apa.
Dalam beberapa versi kisah ini, nenek itu akhirnya menyesal dan belajar dari kesalahannya. Sang kakek tetap menyayanginya, dan sejak itu mereka hidup lebih rukun.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan dan kesederhanaan membawa berkah, sedangkan keserakahan membawa celaka.
- Kekejaman kepada makhluk kecil mencerminkan hati yang perlu diperbaiki.
- Merasa cukup sering memberi lebih banyak daripada mengejar yang paling besar.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Jepang Shita-kiri Suzume (Burung Pipit Lidah Terpotong), yang tercatat sejak abad pertengahan dan dikenal dalam banyak versi.