Petani yang Menarik Tunas Padinya (拔苗助长)
Tunas padi muda di sawah. Ia butuh waktu untuk berakar dan tumbuh, bukan ditarik supaya cepat tinggi. Gambar: Undeka 11 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di negeri Song, ada seorang petani yang sangat tidak sabaran. Musim tanam baru saja lewat. Ia sudah menanam bibit padi di sawahnya dengan rapi, dan setiap pagi ia pergi ke sawah untuk melihat perkembangannya.
Hari pertama, tunas-tunas kecil itu tampak sama saja. Hari kedua, masih sama. Hari ketiga, ia berjongkok dan menatap tunas-tunas itu lama sekali. “Kenapa kalian lambat sekali tumbuhnya?” gerutunya. “Sawah tetangga sepertinya lebih tinggi.”
Setiap malam ia gelisah memikirkan padinya. Ia takut panennya terlambat. Ia takut hasilnya kalah dari orang lain. Sampai suatu hari, sebuah gagasan yang menurutnya cemerlang muncul.
“Kalau tunas ini tidak mau cepat tumbuh, aku bantu saja mereka!”
Pagi-pagi sekali ia turun ke sawah. Satu per satu ia pegang tunas padi itu, lalu ia tarik sedikit ke atas, cukup supaya terlihat lebih tinggi. Satu petak, dua petak, sampai seluruh sawahnya selesai. Pekerjaan itu sangat melelahkan. Punggungnya pegal, kakinya penuh lumpur, dan matahari sudah tenggelam ketika ia selesai.
Ia pulang dengan langkah berat tetapi wajah berseri-seri. “Aduh, capek sekali hari ini,” katanya kepada keluarganya. “Tapi aku sudah membantu padi kita tumbuh lebih cepat!”
Anaknya merasa ada yang aneh. Ia segera berlari ke sawah untuk melihat. Begitu tiba, hatinya mencelos. Tunas-tunas padi itu semuanya terkulai. Akarnya sudah tercabut dari tanah, dan daunnya mulai layu. Tak satu pun yang bisa diselamatkan.
Kisah ini diceritakan oleh Mengzi (Mencius), murid penerus ajaran Konfusius. Ia memakainya untuk menjelaskan cara memupuk kebajikan dalam diri. Menurutnya, ada dua kesalahan yang sama-sama merugikan. Yang pertama adalah orang yang menelantarkan tanamannya, tidak pernah mencabut rumput liar, karena merasa tidak ada gunanya. Yang kedua adalah orang yang memaksa tanamannya tumbuh, seperti petani dari Song itu. “Yang memaksa bukan hanya tidak membantu,” kata Mengzi, “tetapi justru merusak.”
Dari kisah inilah lahir peribahasa 拔苗助长 (bá miáo zhù zhǎng), “mencabut tunas untuk membantunya tumbuh”. Peribahasa ini dipakai untuk orang yang terburu-buru mengejar hasil sampai melanggar proses alami, dan akhirnya justru gagal.
Pesan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita: anak yang dipaksa cepat pintar, bisnis yang dipaksa cepat besar, atau diri sendiri yang dipaksa cepat sukses.
💖 Pesan Moral
- Segala sesuatu punya waktunya untuk tumbuh. Kesabaran adalah bagian dari kerja, bukan lawannya.
- Bantu dengan merawat, bukan memaksa. Siram, beri pupuk, cabut rumputnya, lalu biarkan ia tumbuh.
- Bagi orang tua dan pendidik: jangan bandingkan dan jangan paksakan; setiap anak tumbuh dengan iramanya sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Mengzi (Mencius), bab “Gongsun Chou I”, ajaran filsuf Mengzi (abad ke-4 SM), asal-usul peribahasa 拔苗助长 atau 揠苗助长.