Orang Qi yang Takut Langit Runtuh (杞人忧天)
Peta bintang Dunhuang dari sekitar abad ke-8. Orang Tiongkok kuno tekun mengamati langit, tetapi orang Qi justru takut langit itu runtuh. Gambar: Tidak diketahui (koleksi British Library) · CC0 · sumber
Di negeri Qi, pada zaman dahulu, hiduplah seorang lelaki yang selalu dihantui rasa cemas. Tetapi yang ia cemaskan bukanlah hal-hal biasa seperti panen atau penyakit. Ia mencemaskan langit.
“Bagaimana kalau langit tiba-tiba runtuh?” pikirnya setiap hari. “Bagaimana kalau bumi ini amblas? Ke mana aku harus berlindung?”
Pikiran itu terus menghantuinya. Kalau berjalan di luar, ia sering mendongak ke atas dengan wajah tegang. Kalau malam tiba, ia berbaring dengan mata terbuka, takut langit jatuh menimpanya saat ia tertidur. Lama-lama ia tidak bisa tidur nyenyak dan tidak berselera makan. Tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya pucat.
Seorang sahabatnya merasa kasihan melihat keadaannya. Ia datang berkunjung dan mencoba menenangkannya.
“Kawan, langit itu hanyalah udara yang berkumpul. Tidak ada tempat yang tidak ada udaranya. Setiap kali kau menggerakkan badan, bernapas, atau berjalan, kau bergerak di dalam langit sepanjang hari. Mengapa harus takut ia runtuh?”
Lelaki itu masih ragu. “Kalau langit memang hanya udara, bagaimana dengan matahari, bulan, dan bintang? Tidakkah mereka akan jatuh?”
“Matahari, bulan, dan bintang juga bagian dari udara itu, hanya saja mereka bercahaya. Seandainya pun jatuh, tidak akan melukai siapa-siapa.”
“Lalu bagaimana kalau bumi amblas?”
“Bumi itu tanah yang bertumpuk, memenuhi segala penjuru. Tidak ada tempat yang tidak ada tanahnya. Setiap hari kau melangkah dan menginjaknya. Mengapa harus takut ia amblas?”
Mendengar penjelasan itu, lelaki dari negeri Qi itu akhirnya merasa lega. Wajahnya berseri-seri, dan beban berat yang selama ini menekan dadanya seolah terangkat. Sahabatnya pun ikut gembira melihatnya.
Kisah dalam kitab Liezi ini sebenarnya berlanjut dengan perdebatan para cendekiawan: ada yang mengatakan langit dan bumi pasti suatu saat akan rusak, ada yang mengatakan tidak. Liezi sendiri menutupnya dengan bijak: entah rusak atau tidak, itu di luar pengetahuan kita, jadi untuk apa pikiran kita dibebani olehnya?
Dari sinilah lahir peribahasa 杞人忧天 (Qǐ rén yōu tiān), “orang Qi mencemaskan langit”. Peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan kecemasan berlebihan terhadap hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan, atau yang sama sekali di luar kendali kita.
Banyak dari kita punya “langit runtuh” masing-masing: kekhawatiran tentang hal yang belum tentu terjadi, yang diam-diam mencuri tidur dan kebahagiaan kita hari ini.
💖 Pesan Moral
- Sebagian besar kecemasan kita tidak pernah benar-benar terjadi. Jangan biarkan ia merampas hari ini.
- Bedakan apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang tidak. Kerjakan yang pertama, lepaskan yang kedua.
- Sahabat yang baik membantu kita melihat dengan jernih, dan kita pun bisa menjadi sahabat seperti itu bagi orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Liezi, bab “Tian Rui”, karya klasik Taois Tiongkok, asal-usul peribahasa 杞人忧天.