Memperbaiki Kandang Setelah Domba Hilang (亡羊补牢)
"Domba dan Kambing" karya Zhao Mengfu (abad ke-13). Selama masih ada domba yang tersisa, memperbaiki kandang belum terlambat. Gambar: Zhao Mengfu · Public domain · sumber
Pada zaman Negara-Negara Berperang, Raja Xiang dari negeri Chu dikelilingi oleh para pejabat yang pandai menyenangkan hatinya. Mereka memuji-muji sang raja, menemaninya berpesta, dan membiarkannya bersenang-senang tanpa memikirkan urusan negara.
Seorang menteri setia bernama Zhuang Xin tidak tahan melihat keadaan itu. Suatu hari ia menghadap dan berkata terus terang. “Paduka, kalau Paduka terus seperti ini, dikelilingi orang-orang yang hanya pandai bermewah-mewah, negeri Chu pasti akan celaka.”
Raja Xiang marah besar. “Apakah kau sudah pikun? Atau kau sengaja menyebarkan kabar buruk untuk menakut-nakuti rakyat?”
Zhuang Xin menjawab dengan tenang. “Hamba tidak pikun. Hamba hanya melihat apa yang akan terjadi. Kalau Paduka tidak mau mendengar, izinkan hamba pergi mengungsi ke negeri Zhao untuk menyaksikannya dari jauh.” Raja mengizinkannya, dan Zhuang Xin pun pergi.
Lima bulan kemudian, apa yang dikhawatirkan Zhuang Xin benar-benar terjadi. Pasukan negeri Qin menyerbu. Banyak wilayah Chu jatuh, termasuk ibu kotanya. Raja Xiang terpaksa melarikan diri dan berlindung di kota kecil di daerah perbatasan.
Dalam keadaan terdesak itu, barulah sang raja teringat pada nasihat menterinya. Ia mengirim utusan untuk menjemput Zhuang Xin dari negeri Zhao. Begitu Zhuang Xin tiba, sang raja bertanya dengan rendah hati, “Dulu aku tidak mendengarkanmu, dan sekarang beginilah jadinya. Masih adakah yang bisa diperbuat?”
Zhuang Xin menjawab dengan sebuah perumpamaan yang kelak terkenal sepanjang masa.
“Hamba pernah mendengar pepatah: melihat kelinci lalu baru menoleh memanggil anjing pemburu, belumlah terlambat. Domba hilang lalu baru memperbaiki kandang, juga belum terlambat.”
Ia melanjutkan, “Dahulu ada raja-raja yang memulai dari wilayah yang hanya seratus li, lalu bisa membangun negeri yang besar. Wilayah Paduka yang tersisa masih lebih luas dari itu. Selama Paduka mau berbenah, harapan masih ada.”
Sang raja mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan mulai memperbaiki pemerintahannya.
Dari kisah ini lahir peribahasa 亡羊补牢 (wáng yáng bǔ láo), “domba hilang, lalu kandang diperbaiki”. Menariknya, di Indonesia kita punya pepatah “sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur”, sedangkan peribahasa Tiongkok ini justru menekankan sisi yang lebih penuh harapan: kesalahan memang sudah terjadi, tetapi memperbaikinya sekarang tetap jauh lebih baik daripada membiarkan seluruh kawanan domba hilang.
💖 Pesan Moral
- Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Kerugian kemarin tidak bisa dibatalkan, tetapi kerugian besok bisa dicegah.
- Dengarkan orang yang berani berkata jujur, bukan hanya mereka yang pandai memuji.
- Mengakui kesalahan adalah langkah pertama untuk bangkit kembali.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhan Guo Ce (Siasat Negara-Negara Berperang), bagian “Chu Ce”, percakapan antara Zhuang Xin dan Raja Xiang dari Chu, asal-usul peribahasa 亡羊补牢.