Monyet dan Buaya
Monyet menumpang di punggung sahabatnya; dalam versi Kalila wa Dimna, buaya digantikan kura-kura (folio naskah abad ke-14, The Met). Gambar dipotong pada bagian ilustrasi. Gambar: Pelukis tak dikenal (naskah Kalila wa Dimna); foto: The Metropolitan Museum of Art · CC0 · sumber
Di tepi sebuah sungai yang lebar, tumbuh sebatang pohon jambu yang buahnya manis sekali. Di pohon itu tinggal seekor monyet yang riang. Setiap hari ia memetik buah, makan sepuasnya, dan bernyanyi di dahan-dahan.
Suatu hari, seekor buaya berenang mendekat dan beristirahat di bawah pohon itu. Monyet yang ramah melemparkan beberapa buah jambu kepadanya. “Cobalah, Kawan. Ini buah paling manis di sepanjang sungai.”
Buaya itu mencicipinya dan menyukainya. Sejak hari itu ia datang setiap hari. Keduanya bercakap-cakap tentang banyak hal sampai matahari tenggelam, dan lama-kelamaan mereka menjadi sahabat. Setiap kali pulang, buaya membawa beberapa buah jambu untuk istrinya.
Istri buaya menikmati buah itu, tetapi hatinya dipenuhi pikiran lain. “Kalau buahnya saja semanis ini,” katanya, “bayangkan betapa manisnya hati monyet yang setiap hari memakannya. Bawalah monyet itu kemari. Aku ingin memakan hatinya.”
Buaya terkejut. “Dia sahabatku! Bagaimana mungkin aku mencelakainya?” Tetapi istrinya terus merengek, bahkan berpura-pura sakit, dan berkata bahwa hanya hati monyet yang dapat menyembuhkannya. Akhirnya buaya pun menyerah.
Esok harinya buaya datang dan berkata kepada monyet, “Sahabatku, istriku ingin sekali berterima kasih atas buah-buahmu. Ia mengundangmu makan di rumah kami, di seberang sungai. Naiklah ke punggungku.”
Monyet senang sekali dan melompat ke punggung buaya. Mereka berenang menjauhi tepian. Ketika sampai di tengah sungai yang dalam, buaya merasa monyet sudah tidak mungkin kabur. Ia pun berterus terang.
“Maafkan aku, Kawan. Sebenarnya istriku ingin memakan hatimu.”
Jantung monyet berdegup kencang. Di sekelilingnya hanya ada air. Tetapi ia menenangkan diri dan menjawab dengan suara biasa, “Aduh, mengapa tidak bilang dari tadi? Kami, para monyet, tidak membawa hati kami ke mana-mana. Hatiku kutinggalkan tergantung di pohon jambu. Ayo kita kembali dan mengambilnya.”
Buaya yang tidak terlalu cerdas itu percaya. Ia berbalik dan berenang kembali ke tepian. Begitu sampai, monyet melompat secepat kilat ke dahan tertinggi.
Dari atas sana ia berseru, “Hai buaya yang bodoh! Mana ada makhluk yang bisa hidup tanpa hatinya? Engkau telah mengkhianati persahabatan kita. Pulanglah, dan jangan datang lagi.”
Buaya berenang pergi dengan malu. Ia kehilangan sahabat terbaiknya, sekaligus kehilangan buah jambu yang manis itu.
💖 Pesan Moral
- Dalam bahaya, kepala yang dingin lebih berguna daripada tenaga. Ketenangan monyet menyelamatkan nyawanya.
- Persahabatan sejati tidak dikorbankan demi hasutan atau keinginan orang lain.
- Pengkhianatan selalu ada harganya: kepercayaan yang hilang sulit didapat kembali.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel India kuno yang menjadi kisah pembuka Buku Keempat Panchatantra. Versi lain muncul dalam kisah-kisah Jataka Buddhis (antara lain Vanarinda Jataka), dan adegannya terpahat pada relief Candi Mendut di Jawa Tengah.